Almamater,
ibu yang ramah,
mengajarkan kita banyak ilmu,
dulu,
ketika masih bercelana pendek,
dan wajah puber tanpa dosa,
menyusuri lorong semen
dikitari tiang kayu,
diiringi bel pencet memekik,
menyuruh kita bergegas
menuntut ilmu,
jauh melampaui jaman.
Almamater,
ibu yang ramah,
memberi kita banyak kenangan,
entah pahit atau manis,
ketika pandangan pertama terpana,
sosok mungil ceria,
di setiap pagi
menanti penuh binar,
senyum yang merekah
untuk hati yang bersembunyi,
mendorong semangat
untuk tetap berharap
walau itu nisbi,
dan mungkin sia - sia.
Almamater,
ibu yang ramah,
melecut semangat juang,
jangan kalah dengan saingan,
konsentrasikan pikiran,
harus angka sembilan
tak boleh kurang.
maka setiap malam adalah tempaan
tak perduli mulut sudah menguap
mata sudah menerawang,
tetap harus berjuang
demi suatu pengetahuan
tak lekang digilas jaman.
Almamater,
ibu yang ramah,
sekarang tinggal kenangan
tergusur oleh kebutuhan.
berubah rupa sesuai tuntutan jaman
akankah tetap menjadi ibu yang ramah ?
Semoga usia memberi kesempatan
untuk menyaksikan,
ketika uzur sudah menerpa.
Almamater,
ibu yang ramah.
Tetaplah ramah, ibu
untuk anak cucu kami,
menjadi penjaga jaman.
Ibu, tetaplah ramah,
selalu.
Catatan kecil tentang keseharian Helen Muliadi di lingkungan sekolah SD dan SMP Budi Mulia, Pangkalpinang, Bangka. Mengais hikmah dan kebijaksanaan yang dapat ditemukan. Blog ini dibuat pada hari Minggu, 8 Agustus 2010.
Tampilkan postingan dengan label Nostalgia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nostalgia. Tampilkan semua postingan
Senin, 11 Juni 2012
Rabu, 27 Juli 2011
Black and White
Setahun lalu,
ketika melongok ke kelas kenangan,
hati terperanjat,
melihat papan tulis hitam masih bertengger.
Sudah berapa tahun berlalu ?
Sudah berapa banyak debu kapur dihirup guru ?
Setengah tahun kemudian,
papan tulis hitam mulai dicopot satu,
diganti papan tulis putih,
dengan spidol baru,
yang bikin murid punya kebiasaan baru,
mengisi spidol kosong
dengan terburu - buru,
demi penghematan,
mengisi dengan tinta isi ulang,
dipakai hingga spidol hilang ujung bulu,
baru dicampakkan,
biarkan berlalu bersama debu.
Dan lihatlah,
ada nuansa baru,
ada pemandangan baru,
hitam dan putih bersanding
di depan murid,
sedikit menyembuhkan rindu,
akan kesehatan yang perlu
untuk guru,
untuk si badu muridku yang lucu.
Yang tinggal adalah penghapus abu - abu
yang membuat hati haru biru,
abu - abu bergaris putih,
kualitas nomor satu,
tanpa kayu pegangan,
hanya busa abu - abu,
masa lalu yang muncul baru.
Ada hitam dan putih,
dan sepotong abu - abu,
di ujung kelasku dahulu.
Membuatku terharu,
mengingat - ingat masa lalu,
dulu,
ketika kaki mulai berbulu,
ketika perasaan mulai abu - abu,
antara mengenakan celana pendek
atau panjang
biar tak malu
dengan bulu.
Itulah dulu.
Ada hitam dan putih
yang sudah bersanding
terlebih dahulu.
dan semoga
putih selalu menjadi pemandangan baru
di depan murid
ketika gedung baru
sudah menjelma
nanti.
tak perlu lagi
ada debu
di dalam udara
yang dihirup,
selamat tinggal
penghapus abu - abu.
Jadilah kenangan masa lalu.
berlalu bersama debu
dan haru.
( Terima kasih kepada Ivan Lindra Wijaya yang telah bersedia memperagakan memegang penghapus abu - abu )
ketika melongok ke kelas kenangan,
hati terperanjat,
melihat papan tulis hitam masih bertengger.
Sudah berapa tahun berlalu ?
Sudah berapa banyak debu kapur dihirup guru ?
Setengah tahun kemudian,
papan tulis hitam mulai dicopot satu,
diganti papan tulis putih,
dengan spidol baru,
yang bikin murid punya kebiasaan baru,
mengisi spidol kosong
dengan terburu - buru,
demi penghematan,
mengisi dengan tinta isi ulang,
dipakai hingga spidol hilang ujung bulu,
baru dicampakkan,
biarkan berlalu bersama debu.
Dan lihatlah,
ada nuansa baru,
ada pemandangan baru,
hitam dan putih bersanding
di depan murid,
sedikit menyembuhkan rindu,
akan kesehatan yang perlu
untuk guru,
untuk si badu muridku yang lucu.
Yang tinggal adalah penghapus abu - abu
yang membuat hati haru biru,
abu - abu bergaris putih,
kualitas nomor satu,
tanpa kayu pegangan,
hanya busa abu - abu,
masa lalu yang muncul baru.
Ada hitam dan putih,
dan sepotong abu - abu,
di ujung kelasku dahulu.
Membuatku terharu,
mengingat - ingat masa lalu,
dulu,
ketika kaki mulai berbulu,
ketika perasaan mulai abu - abu,
antara mengenakan celana pendek
atau panjang
biar tak malu
dengan bulu.
Itulah dulu.
yang sudah bersanding
terlebih dahulu.
dan semoga
putih selalu menjadi pemandangan baru
di depan murid
ketika gedung baru
sudah menjelma
nanti.
tak perlu lagi
ada debu
di dalam udara
yang dihirup,
selamat tinggal
penghapus abu - abu.
Jadilah kenangan masa lalu.
berlalu bersama debu
dan haru.
( Terima kasih kepada Ivan Lindra Wijaya yang telah bersedia memperagakan memegang penghapus abu - abu )
Minggu, 05 Juni 2011
Dalam pusaran waktu (1)
Menjelang akhir tahun ajaran,
adalah menyaksikan
riak - riak gelombang
yang tergesa - gesa menerjang
seperti sudah mencapai daratan
seperti sudah berganti atribut
seperti sudah melupakan sekarang.
Menjelang akhir tahun ajaran,
adalah menyaksikan
gelombang di belakang
mendorong gelombang di depan
menyibak keinginan
menyingkirkan halangan
maju tak gentar
menuju masa depan.
Menjelang akhir tahun ajaran,
adalah menyaksikan
sejarah yang terulang
melihat satu angkatan
akan berlalu
menjadi kenangan
hanya angka tahun ajaran
yang diingat untuk sekian bulan mungkin
untuk sekian tahun mungkin
dan ingatan akan menjadi samar
ketika bertemu kembali
mengingat - ingat identitas
kenal wajah,
lupa nama,
dan satu tepukan di dahi,
tanda pelupa,
dan senyum simpul tercurah
mengenang nostalgia.
Menjelang akhir tahun ajaran,
adalah menyaksikan
deretan angka kalender yang berlalu
satu demi satu
melihat punggung mereka
yang semakin menjauh.
Entah perasaan apa yang tertinggal...
entah kenangan apa yang melekat...
entah apa yang akan terjadi
kelak di kemudian hari,
di suatu saat,
di suatu waktu,
di suatu masa,
ketika hari - hari sudah berlalu,
mungkin kita tidak akan bertemu
lagi
karena takdir
menunjukkan jalannya sendiri...
adalah menyaksikan
riak - riak gelombang
yang tergesa - gesa menerjang
seperti sudah mencapai daratan
seperti sudah berganti atribut
seperti sudah melupakan sekarang.
Menjelang akhir tahun ajaran,
adalah menyaksikan
gelombang di belakang
mendorong gelombang di depan
menyibak keinginan
menyingkirkan halangan
maju tak gentar
menuju masa depan.
Menjelang akhir tahun ajaran,
adalah menyaksikan
sejarah yang terulang
melihat satu angkatan
akan berlalu
menjadi kenangan
hanya angka tahun ajaran
yang diingat untuk sekian bulan mungkin
untuk sekian tahun mungkin
ketika bertemu kembali
mengingat - ingat identitas
kenal wajah,
lupa nama,
dan satu tepukan di dahi,
tanda pelupa,
dan senyum simpul tercurah
mengenang nostalgia.
Menjelang akhir tahun ajaran,
adalah menyaksikan
deretan angka kalender yang berlalu
satu demi satu
melihat punggung mereka
yang semakin menjauh.
Entah perasaan apa yang tertinggal...
entah kenangan apa yang melekat...
entah apa yang akan terjadi
kelak di kemudian hari,
di suatu saat,
di suatu waktu,
di suatu masa,
ketika hari - hari sudah berlalu,
mungkin kita tidak akan bertemu
lagi
karena takdir
menunjukkan jalannya sendiri...
Langganan:
Postingan (Atom)