Kamis, 03 Maret 2011

Rumah Putih Biru

Putih Biru adalah warna lain
yang ditemui
di hari - hari baru ini.
Setelah enam bulan
hanya memandang Putih Merah
yang berlarian,
berlompatan,
jungkir balik,
tak pernah diam,
                                                      tak pernah tenang.

Ah, perubahan suasana
sejenak,
lebih tenang,
sedikit tenteram,
lebih pengertian.
Putih Biru yang menyejukkan,
di gedung yang sudah 17 tahun
berselang



Memasuki rumah baru,
mengingatkan waktu dulu,
ketika masih pemalu,
ketika masih ragu - ragu,
sekarang sudah tidak seperti dulu,
jangan ragu,
jangan malu,
maju
mencari yang dituju.


Semoga Putih Biru,
tidak meluapkan haru biru,
tidak menahan gerak maju,
tidak memalukan.
Hanya ada satu tanda seru,
maju !

Selasa, 01 Maret 2011

Waktu terus berlalu (bagian ke-3)

Berdiri di selasar,
di lantai atas smp budi mulia,
menatap ke bawah,
adalah menatap sudut pandang lain
keluar dari kotak sd budi mulia.





Berdiri di teras kelas,
di lantai atas smp budi mulia,
memandang ke sekeliling,
adalah menatap masa lalu,
yang sudah berubah seperti sekarang,
tak terasa waktu sudah berlalu,
begitu jauh.





Berdiri di belakang pagar tembok pembatas,
di lantai atas smp budi mulia,
melemparkan pandangan sejenak,
adalah merindukan saat dulu,
ketika seragam putih hijau
ditemani kaki berbulu,
menapak selasar kelas
dengan terburu - buru,
dikejar dentang bel yang seru.




Berdiri di lapangan bola volley dulu,
yang sudah tersapu tembok gedung,
adalah merindukan waktu dahulu,
ketika akar nyamplung kekar melaju,
ketika sepotong lapangan
ditumbuhi semak dan puteri malu,
ketika secuil rindu
disapu angin lalu.



Berdiri di sini,
sekarang,
adalah menatap maju,
menyongsong yang perlu dilakukan,
tetap setia,
tanpa keluh,
tiada rasa kelu,
semoga semuanya tetap utuh,
kenangan yang berlalu berselimut rindu,
                                                      harapan yang digapai maju.

Waktu terus berlalu,
selalu.



Sabtu, 05 Februari 2011

Ko Ngien pertama ( lagi ) 2562

Sudah berapa tahun berlalu ?
Seberapa banyak ingatan terpaku ?
Ini Ko Ngien pertama lagi,
di Pinkong,
setelah 30 tahun berlalu.





Seberapa banyak kenangan dahulu
yang masih diingat kini ?
Lamat - lamat hanya ada sedikit rindu,
tentang tambur yang bertalu,
tentang musik yang bergemerincing,
tentang fung pao yang seperlunya,
tak ada rasa rindu.



Seberapa meriah Ko ngien sekarang ?
tidak seperti dulu,
hanya ada acuh tak acuh,
jalanan yang sepi,
waktu yang terus berlalu,
hujan yang berderai acap kali,
banyak hal sudah berlalu,
tidak seperti dulu.


Seberapa baru hati kita bertalu ?
tak ada yang tahu,
hanya pakaian kita yang baru,
kue yang masih seperti dulu,
semestinya ada pemikiran baru,
kesadaran baru,
tentang arti tahun baru.



Kiung Hi Sin Ngien,
Selamat Tahun Baru.
Sin Nien Khuai Le'.
Happy New Year.

Ketika daun mulai menguning ( 2 ), ibu Cui Yun

ketika daun mulai menguning
akankah daun itu lepas dari tangkainya
dan melayang jatuh  ke bawah ?


ketika bu Cui Yun berumur 60,
masa pensiun telah dimulai.
Akankah beliau melupakan
semua kenangan yang telah dilaluinya ?
38 tahun mengajar,
di sd budi mulia,
mengajar kelas 1 dan 2,
termasuk juga aku,
pernah diajar ketika kelas 2
                                                      tahun 1973
                                                      37 tahun lalu.


ketika waktu berlalu
seperti sekejap memejamkan mata
seperti secuil mimpi
yang tadi malam menyapa
ingatan apa yang tersisa
dan mengisi penuh
rongga dada keharuan ?



ketika menyusuri masa lalu
dan terhenti sejenak
di kelas paling ujung
kelas dua dahulu,
apa yang terbersit di pikiran ?
kelas yang riuh,
teman yang nakal,
senyum ibu yang menawan.


ketika kenangan dulu disusun ulang,
pernah ibu bercerita,
tentang bruder yang disiplin,
yang bisa menampar dengan tiba - tiba,
ketika ada yang berisik di kelas,
yang diam - diam bisa memberikan uang insentif,
untuk ibu yang dinilai terlalu lelah,
mengajar dari pagi sampai siang.


ketika ingatan diputar lagi,
ketika duduk di bangku beton di dekat lonceng,
ibu lewat dan berkata,
nah, kuingat namamu di sd dulu.
ingatan ibu kuat,
senyumku mengembang.
Juga ibu pernah bilang,
di suatu siang sesudah bubaran jam belajar,
                                                      lihatlah anak bm sekarang,
                                                      penuh energi,
                                                      pulang sekolahpun masih bermain,
                                                      berlarian, berkejaran, berebutan bola
                                                      Seandainya prestasi belajar seperti itu...

ketika daun mulai menguning,
biarkan daun itu tetap bertengger,
mungkin daun itu tidak akan cepat layu
dan melayang ke bawah,
mungkin daun hijau di sebelahnya lebih dulu gugur
dan menjadi tumpukan kompos di atas tanah.

ketika daun mulai menguning,
biarkan daun itu mengikuti waktunya,
karena sudah saatnya,
menguning
dan
akan berlalu
dalam hening
yang bening.

Sabtu, 01 Januari 2011

Happy New Year, Mr. Helen !

Hari Jumat, 31 Desember 2010,
sehari menjelang pergantian tahun.
Hari yang biasa saja di Pangkalpinang,
cuaca cerah, angin bertiup agak kencang.
Kegiatan hari ini biasa saja,
jaga warung,
baca koran,
ambil ponsel yang diservis,
copy mp3 di rumah tetangga,
sortir foto dan video di harddisk,
harddisk-nya sudah penuh.


Malam hari,
jalanan di depan warung, sepi,
seperti malam laga final aff,
ah, tutup warung,
sudah waktunya,
letusan suara kembang api mulai terdengar,
dua jam kemudian,
anakku ke loteng,
membakar kembang api dengan adikku,
'orang rumah' asyik selancar di fo sau buk,
menonton sinetron korea di youtube,
aku ?
tidur ayam.
Pas jam 24.00
dari arah lapangan merdeka,
letusan suara kembang api silih berganti,
mengapa orang mau membakar duit
secara tidak langsung ?
Duitnya berlebih barangkali.



Happy New Year 2011, Mr. Helen !
Selamat menempuh Tahun Baru, pak guru.
Happy always.
Semangat baru,
Harapan baru,
Kejujuran baru,
Kasih baru, 
Syukur terus menerus,
Iman yang terus tumbuh,
                                                      selalu.

Waktu terus berlalu (bagian ke-1)

Waktu terus berlalu...
Sudah 76 tahun usia Sekolah ini,
Sudah banyak nostalgia bertumpuk di memori,
terpatri silih berganti,
terpilih atau tersisih.

Waktu terus berlalu...
pandanglah bangunan ini,
diintip dari jendela kusam.
tergerus waktu yang tertatih,
bangunan yang akan diganti,
nanti.



Waktu terus berlalu...
pandanglah lonceng tua ini,
tergantung sepi,
ditemani kucuran air hujan
dari talang yang bocor,
berguna ketika listrik mati,
dengan pukulan palu tiga kali,
menandakan waktu sudah berganti.

Waktu terus berlalu...
lihatlah di pojok sepi,
lubang di pagar loteng,
terkuak oleh gerusan jaman,
tanda usia yang makin renta,
terbata - bata
berpegangan pada asa
menghadapi tantangan jaman.



Waktu terus berlalu...
lihatlah sekeliling,
sekolah dikepung duri :
rumah walet dan dept. store,
pertanda desakan modernisasi,
atau sekedar membuang sepi,
biar tetap berseri.



Waktu terus berlalu...
lihatlah sebatang nyamplung,
berdiri letih,
seusai dera rinai hujan,
di pojok yang sepi,
sendiri.

Waktu terus berlalu...
dan tetap berlalu.
Selalu.

Waktu terus berlalu (bagian ke-2)

Waktu terus berlalu,
menyusuri selasar di sekolah,
menapak kenangan dahulu,
dulu,
ketika masih pemalu,
dan ragu - ragu.



Waktu terus berlalu,
lihatlah tangga parabola itu,
dulu menaikinya
dengan ragu dan kaku,
sekarang sang tangga
masih seperti dulu,
cuma berwarna lebih maju,
terletak di lereng taman
bukan taman yang dulu.


Waktu terus berlalu,
pandanglah patung Santo Don Bosco sejenak,
ketika melintas di lobby sekolah,
karena dulu kita tidak sempat melihat,
karena patung eyang terlalu tinggi.
melewati batas pandangan kita.
Mungkin juga kita takut,
dengan warna hitam wajah eyang
yang tergerus waktu
dihinggapi noda dan debu.


Waktu terus berlalu,
deretan jendela kusam, 
di ruang kelas atas,
mengingatkan lantai kayu berdebu,
mengingatkan 'hantu' di  gudang belakang, 
mengingatkan bola kasti pak a siong,
yang memantul di dinding  kusam,
ah, nostalgia seru.


Waktu terus berlalu,
tangga batu berdebu,
penghubung tk dan smp kini,
dulu adalah jalan setapak,
menuju pinggir sungai rangkui,
membangkitkan motivasi,
ayo, berjuang,
menuju puncak tangga prestasi,
demi masa depan berseri.




Waktu terus berlalu,
deretan toilet yang sudah mem-'beku',
mengingatkan zaman dahulu,
deretan yang selalu penuh,
ketika lonceng 'keluar maen' dipalu,
bersiaplah untuk 'tunggu dulu',
ah, masa lalu...



Waktu terus berlalu,
adakah 'hantu' di balik pintu,
di lantai dasar,
di bawah tk,
pintu yang membisu,
tanpa pernah tahu,
banyak kenangan sudah berlalu,
selalu.





Waktu terus berlalu,
garasi sepeda dulu,
sekarang jadi mess guru,
tetap memberi kesan sendu,
tempat persinggahan pada waktu tertentu,
kalau ada perlu,
tempat menunggu, 
sambil tersedu - sedu
ah, siapa yang mau tahu.                                                      



Waktu terus berlalu,
dahulu berdirilah aku,
memandang bendera dan menara katedral,
mengikuti upacara bendera yang disakralkan,
berolahraga yang menyebalkan,
ditempa di bawah terik sinar mentari,
kuyub dengan peluh dan sebal,
dan sehabis itu,
minum air teh bekal, 
sambil berbagi kesal. 




Waktu terus berlalu,
gerbang di antara sd dan smp dulu,
sekarang ini adalah gerbang masuk smp kini,
penghubung sd lama dan sd baru nanti,
gerbang berpijak menuju masa depan,
yang entah lebih bermutu,
atau lebih kelabu.


Waktu terus berlalu,
tangki air di atas sumur,
yang dari dulu tak pernah disadari,
sumber air baku untuk seluruh sekolah,
yang kualitasnya sudah entah seperti apa,
sehingga perlu mencari alternatif sumber lain,
dan menggali lapangan di aula.
Air adalah sumber kehidupan,
                                                     dari dulu sampai kini.


Waktu terus berlalu,
seperti atap biru,
yang bertengger di atas jendela kelas,
dan ruang guru,
supaya tampias tidak menyerbu, 
tidak seperti dulu.
Seharusnya selalu ada sesuatu yang baru.
tidak seperti dulu.
                                              Tidak seperti dulu.


Selasa, 23 November 2010

Melihat dengan empati

Hari itu senin, 22 November 2010,
hari masih pagi,
jam 07.30,
sekolah baru dimulai,
seorang bapak,
berjalan pelan menghampiri pintu depan sekolah,
ada dua meja sudah diletakkan di dekat pintu,
ibu Magdalena sudah siap di tempat duduknya,
hari itu adalah permulaan pembagian sembako,
wujud kepedulian sekolah
untuk yang terpinggirkan,
yang hidup berdampingan di sekitar kita,
yang atas rekomendasi guru - guru sekolah,
diberikan kupon untuk mengambil wujud cinta kasih :
beras 5 kg, satu dus mie instan,
dua liter minyak goreng,
harganya tidak seberapa,
bagi bos timah dan sarang walet,
tapi nilainya berharga bagi mereka yang membutuhkan.


Mengamati mereka yang silih berganti datang,
sambil memotret,
terbersit pikiran,
seandainya aku yang berada dalam posisi mereka,membawa kupon dan mengambil jatah,
apa yang kupikirkan ?
Bersyukurkah ?
Merasa malukah ?
Atau biasa - biasa saja, berpikir sudah seharusnya ?
Sambil sesekali memotret adegan pembagian, 
iseng - iseng kumasuki ruang uks yang jadi "gudang" sementara,
dan memotret tumpukan barang yang akan dibagikan,
terpotret juga patung setengah badan,
bapak pendiri Konggregasi Bruder Budi Mulia,
pastor Stephanus Modestus Glorieux,
dan ketika mengedit foto tersebut,
kudapati bibir patung sang bapak bersinar sedikit,
karena pantulan dari sinar flash kamera.   
Apa artinya ?
Apakah berarti aksi sosial ini diberkati sang bapak ?


Ketika siang menjelang,
datang seorang bapak tua bersepeda,
masih gagah,
berkacamata,
dan ingatanku langsung menyala,
ini bapak penjaga dan pekebun sekolah,
ketika smp masih berada di sebelah lo ngin buk,
oom nandus panggilannya.
Kami saling menyapa,
ingatan oom masih kuat,
ketika kusebutkan nama dan rumah,
karena kami pernah bersama,
pada tahun delapan puluhan, 
di setiap sore di smp bm dulu di sana,
yang satu mengajar matematika,
yang lain mengurus tanaman sekolah.
Ah, kenangan indah...
Kami saling bercerita,
ngobrol ngalor ngidul istilahnya,
walau dua - duanya bukan orang jawa.
Walau sudah tua,
68 tahun,
oom nandus tetap gagah,
bersepeda membawa sembako ke rumahnya. 


Ketika menjelang bubaran sekolah, 
bapak tukang sampah juga datang,
membawa kupon jatah,
dan semuanya dibawa dengan sukacita
ke sepeda tua.
Ya, penghargaan untuk yang bekerja,
membersihkan sampah sekolah,
bapak yang masih setia,
menyapu benda - benda,
yang dibuang sembarangan,
mengumpulkannya di gerobak sampah,
biar semua terlihat bersih,
indah,
dan sehat.
Penghargaan untuk jasa,
dan karya,
orang - orang
yang mungkin dipandang 
sebelah mata.

Catatan ini sudah terlalu panjang ?
Tambah sedikit lagi.
Kulihat semuanya bekerja dengan riang,
membagi sembako dengan senyuman,
membawa pulang untuk tetangga yang kekurangan. 
peristiwa yang akan terulang,
setiap ulang tahun konggregasi menjelang.
Nah, ini indahnya kebersamaan.
Ada keriangan,
ada kelegaan,
senantiasa.

Sabtu, 13 November 2010

Seberapa banyak salam ?

Ketika statusmu diakui sebagai guru
maka bersiaplah menerima salam
dari murid,
dengan telapak tangan terjulur
dan punggung telapak tanganmu
akan diangkat menyentuh keningnya.
Gaya budaya Jawa.


Kadang terlintas di pikiran
sejak kapan salam ini di'masyarakat'kan di sekolah ?
ide siapa ini yang memperkenalkannya ?
Ada sedikit rasa kurang 'sreg'
dengan salam ini.
Sepertinya ada gaya feodal terlihat.
Bukankah cukup hanya berjabat tangan saja ?
Tidak perlu 'mencium' telapak tangan sang guru
dengan kening,
karena
kalau tulang jari sang guru menonjol keras
maka kening sang murid akan terbentur sakit.
Karena sering menerima salam 'feodal' ini,
 terlintas di pikiran tadi,
                                                      apakah ini bisa jadi petunjuk
seberapa besar sang guru disukai ?
Artinya,
kalau tiap hari selalu mendapat salam
dari murid yang berpapasan
dan setiap hari selalu banyak
tangan terjulur,
berarti sang guru
adalah guru favorit ?
atau sang guru
                                                     sudah diakui eksistensinya ?


Tanyalah kepada semilir angin yang berhembus
di lorong sekolah.
Tanyalah kepada patung 'eyang' Don Bosco
yang setia menjaga lobby sekolah.
Tanyalah kepada lonceng sekolah
yang hanya diam terpaku diguyur air hujan
pada suatu siang kelabu
ditemani angin dingin
yang menusuk
                                         dalam.








Catatan : 
Foto yang ditampilkan hanyalah contoh gambaran Salam hormat yang dilakukan murid. Foto tidak dimaksudkan untuk men-diskredit-kan guru yang tampak dalam foto adalah seorang yang feodal. Mohon maaf kepada rekan guru yang tampil dalam foto.