Minggu, 05 Juni 2011

Dalam pusaran waktu (1)

Menjelang akhir tahun ajaran,
adalah menyaksikan
riak - riak gelombang
yang tergesa - gesa menerjang
seperti sudah mencapai daratan
seperti sudah berganti atribut
seperti sudah melupakan sekarang.



Menjelang akhir tahun ajaran,
adalah menyaksikan
gelombang di belakang
mendorong gelombang di depan
menyibak keinginan
menyingkirkan halangan
maju tak gentar
menuju masa depan.


Menjelang akhir tahun ajaran,
adalah menyaksikan
sejarah yang terulang
melihat satu angkatan
akan berlalu
menjadi kenangan
hanya angka tahun ajaran
yang diingat untuk sekian bulan mungkin
untuk sekian tahun mungkin
dan ingatan akan menjadi samar
ketika bertemu kembali
mengingat - ingat identitas
kenal wajah,
lupa nama,
dan satu tepukan di dahi,
tanda pelupa,
dan senyum simpul tercurah
mengenang nostalgia.


Menjelang akhir tahun ajaran,
adalah menyaksikan
deretan angka kalender yang berlalu
satu demi satu
melihat punggung mereka
yang semakin menjauh.
Entah perasaan apa yang tertinggal...
entah kenangan apa yang melekat...
entah apa yang akan terjadi
kelak di kemudian hari,
di suatu saat,
di suatu waktu,
di suatu masa,
ketika hari - hari sudah berlalu,
mungkin kita tidak akan bertemu
lagi
karena takdir
menunjukkan jalannya sendiri...

Minggu, 15 Mei 2011

Ya... sudahlah...

Di suatu siang,
di hari cuaca yang berubah - ubah,
di ruangan lab komputer,
mencoba mendengarkan lagu
dari ponsel bergemuruh,
lagu favorit
dari Bondan Prakoso,
Ya... sudahlah...

Ketika mimpimu yang begitu indah,
tak pernah terwujud..ya sudahlah
Saat kau berlari mengejar anganmu,
dan tak pernah sampai..ya sudahlah (hhmm)

*reff:
Apapun yg terjadi, ku kan slalu ada untukmu
Janganlah kau bersedih..coz everything's gonna be okey

Santoz:
yo..Satu dari sekian kemungkinan
kau jatuh tanpa ada harapan
saat itu raga kupersembahkan
bersama jiwa, cita,cinta dan harapan

Lezz:
Kita sambung satu persatu sebab akibat
tapi tenanglah mata hati kita kan lihat
menuntun ke arah mata angin bahagia
kau dan aku tahu,jalan selalu ada

titz:
juga ku tahu lagi problema kan terus menerjang
bagai deras ombak yang menabrak karang
namun ku tahu..ku tahu kau mampu tuk tetap tenang
hadapi ini bersamaku hingga ajal datang

Bondan Prakoso:
Sempat kau berharap keramahan cinta,
tak pernah kau dapat..ya sudahlah
yeeah..dengar ku bernyanyi..lalalalalala
heyyeye yaya dedudedadedudedudidam..semua ini belum berakhir

back to *reff :
Apapun yg terjadi, ku kan slalu ada untukmu
Janganlah kau bersedih..coz everything's gonna be okey


Fade 2 Black:
satukan langkah..langkah yg beriring !
genggam hati, rangkul emosi !

Bondan Prakosa:
Genggamlah hatiku, satukan langkah kita

Fade 2 Black:
Sama rasa, tanpa pamrih
ini cinta..across the sea

Bondan Prakosa:
peluklah diriku..terbanglah bersamaku, melayang jauh.. (come fly with me, baby)

Fade 2 Black:
Ini aku dari ujung rambut menyusur jemari
sosok ini yg menerima kelemahan hati
yea..aku cinta kau..(ini cinta kita)
cukup satu waktu yes.(untuk satu cinta)

satu cinta ini akan tuntun jalanku
rapatkan jiwamu yo tenang disisiku
rebahkan rasamu..untuk yg ditunggu
bahagia... hingga ujung waktu 


*reff:
Apapun yg terjadi, ku kan slalu ada untukmu
Janganlah kau bersedih..coz everything's gonna be okey



Apapun yg terjadi, ku kan slalu ada untukmu
Janganlah kau bersedih..coz everything's gonna be okey


Apapun yg terjadi, ku kan slalu ada untukmu
Janganlah kau bersedih..coz everything's gonna be okey

Dan, dengarlah,
ketika sampai pada bagian reffrain,
serentak koor berbunyi :
 Apapun yg terjadi, ku kan slalu ada untukmu
 Janganlah kau bersedih..coz everything's gonna be okey
mencengangkan,
para murid lebih hafal lirik lagu pop
daripada lagu wajib 
yang dinyanyikan di setiap hari upacara bendera,
lebih fasih dengan titi nada lagu pop,
lebih menikmati jiwa nada lagu pop,
ke mana lagu anak sekarang bersembunyi ?
tak terdengar lagi lagu helly,
atau diobok - obok,
mungkin jawabannya ada di reffrain lagu :
      Apapun yg terjadi, ku kan slalu ada untukmu
      Janganlah kau bersedih..coz everything's gonna be okey
Ya, sudahlah...


Mohon ijin kepada Bondan Prakoso dan Fade2Black untuk menampilkan lirik lagu 'Ya.. sudahlah...'


Jumat, 22 April 2011

Keledai yang ditunggangi

ditulis menjelang Paskah 2011, inspirasi judul dari Hari Minggu Palma. 



Keledai yang ditunggangi,
sudah dilepas ikatannya,
dari sumur di suatu desa,
setelah meminta ijin ke si empunya,
untuk melakukan tugasnya,
mengantar ke peristiwa,
yang harus dijalani,
sepenuh hati,
sepenuh karsa,
                                                      sepenuh jiwa.


Menunggangi keledai,
adalah pengakuan yang dimiliki,
ketika melakukan sesuatu,
untuk diri sendiri
maupun orang lain,
adalah rasa bahagia
yang memenuhi dada,
ketika yang dilakukan,
terasa berguna untuk orang lain,
terasa melegakan untuk diri sendiri.



Menunggangi keledai,
adalah rasa tanggungjawab,
yang muncul, ketika
melihat kemampuan akademik murid yang mencemaskan,
melihat perhatian murid yang menggemaskan,
melihat kegemaran murid yang memanaskan hati,
melihat masa depan generasi penerus,
yang mungkin akan merosot ke titik nadir.




Menunggangi keledai,
janganlah terbalik menjadi
hati dan pikiran kita,
yang ditunggangi
oleh
kemalasan,
kebodohan,
keserakahan,
ketidakperdulian,
yang menunggangi
dan yang ditunggangi,
menjadi terbalik - balik
seperti jaman edan
sekarang.


Menunggangi keledai,
bersungguh sungguhlah
mengatur sang keledai,
lambang kebodohan,
lambang kemalasan,
lambang ketidakperdulian,
sehingga
tidak ada penyesalan,
di kemudian hari,
ketika melihat ke belakang,
dan menatap tapak - tapak kaki,
sang keledai,
yang membekas,
di relung penyesalan :,
seandainya dulu,
tidak kulakukan hal itu...
seandainya...

penyesalan selalu datang terakhir,
mencubit,
menyadarkan,
sakitnya menyebar ke seluruh dada.
dan hanya dapat berucap :
seandainya...

Senin, 04 April 2011

Chin Min pertama (lagi)

Tiga puluh tahun lebih telah berlalu,
dulu, Chin Min adalah saatnya
menginap di rumah Nenek,
bangun di subuh hari jam 4,
sarapan sepotong roti marie, 
secangkir teh tawar panas,
dan menunggu truk yang datang menjemput,
berdesakan di bak truk,
bersama famili lain,
                                                      menuju Ngi Chiung.
                                                      Dan hari itu berarti,
                                                      bolos sekolah.

Sekarang,
setelah lama berlalu,
Chin Min pertama (lagi) dijalani.
Tetap harus bangun di subuh hari,
sarapan sekedarnya,
mandi secepatnya,
menikmati perjalanan,
dan tidak bolos mengajar,
karena memilih hari minggu.


Memasuki kompleks Ngi Chiung
adalah memasuki kompleks kemeriahan
karena lampion menyambut sepanjang boulevard,
dengan sekian tiang beton baru,
berkepala tiga lampu sorot,
dan lalulintas yang macet
karena jalan sempit disumbat parkir mobil,
semuanya dinikmati
dengan kesabaran dan tenggang rasa,
tak ada batas waktu yang dikejar,
tak ada matahari yang harus didahului terbitnya.

Suasana yang terasa,
saling menyapa dengan senyuman,
masing - masing dengan urusannya,
menata dan menjaga sesaji,
sambil berdoa,
semoga tenang di alam baka,
inilah bukti bakti dan hormat dari saudara,
anak dan cucu,
dan termenung sejenak,
mengenang masa lalu ketika masih bersama,
mungkin menyesali yang tidak sempat diucapkan,
kata yang tercekat di ujung lidah,
sikap cinta yang tidak dilakukan,
ketika masih bisa bertegur sapa,
dan sedikit rasa penyesalan menyergap,
menusuk pilu di relung perasaan.


Chin Min adalah refleksi diri,
ketika memandang kuburan terlantar,
tak diketahui ahli warisnya,
mengira - ngira sejarah yang telah lalu,
membantu mengirim doa ke Yang Maha Kasih,
semoga yang terlupakan,
menemukan kebahagiaan di sana,
di suatu tempat,
                                                     di suatu waktu.

Chin Min adalah tradisi,
yang semoga lebih baik lagi di tahun depan,
ketika masih diberi kesempatan,
karena kita tidak tahu di esok hari,
apakah bisa seperti ini lagi,
atau kita malah kembali,
ke haribaan sang Maha Pengasih,
berserah diri.


Chin Min menjadi reformasi,
menohok kesadaran diri,
rekonsiliasi dengan diri sendiri,
untuk meningkatkan diri,
lebih baik lagi.
Dan lagi.

Kamis, 03 Maret 2011

Rumah Putih Biru

Putih Biru adalah warna lain
yang ditemui
di hari - hari baru ini.
Setelah enam bulan
hanya memandang Putih Merah
yang berlarian,
berlompatan,
jungkir balik,
tak pernah diam,
                                                      tak pernah tenang.

Ah, perubahan suasana
sejenak,
lebih tenang,
sedikit tenteram,
lebih pengertian.
Putih Biru yang menyejukkan,
di gedung yang sudah 17 tahun
berselang



Memasuki rumah baru,
mengingatkan waktu dulu,
ketika masih pemalu,
ketika masih ragu - ragu,
sekarang sudah tidak seperti dulu,
jangan ragu,
jangan malu,
maju
mencari yang dituju.


Semoga Putih Biru,
tidak meluapkan haru biru,
tidak menahan gerak maju,
tidak memalukan.
Hanya ada satu tanda seru,
maju !

Selasa, 01 Maret 2011

Waktu terus berlalu (bagian ke-3)

Berdiri di selasar,
di lantai atas smp budi mulia,
menatap ke bawah,
adalah menatap sudut pandang lain
keluar dari kotak sd budi mulia.





Berdiri di teras kelas,
di lantai atas smp budi mulia,
memandang ke sekeliling,
adalah menatap masa lalu,
yang sudah berubah seperti sekarang,
tak terasa waktu sudah berlalu,
begitu jauh.





Berdiri di belakang pagar tembok pembatas,
di lantai atas smp budi mulia,
melemparkan pandangan sejenak,
adalah merindukan saat dulu,
ketika seragam putih hijau
ditemani kaki berbulu,
menapak selasar kelas
dengan terburu - buru,
dikejar dentang bel yang seru.




Berdiri di lapangan bola volley dulu,
yang sudah tersapu tembok gedung,
adalah merindukan waktu dahulu,
ketika akar nyamplung kekar melaju,
ketika sepotong lapangan
ditumbuhi semak dan puteri malu,
ketika secuil rindu
disapu angin lalu.



Berdiri di sini,
sekarang,
adalah menatap maju,
menyongsong yang perlu dilakukan,
tetap setia,
tanpa keluh,
tiada rasa kelu,
semoga semuanya tetap utuh,
kenangan yang berlalu berselimut rindu,
                                                      harapan yang digapai maju.

Waktu terus berlalu,
selalu.



Sabtu, 05 Februari 2011

Ko Ngien pertama ( lagi ) 2562

Sudah berapa tahun berlalu ?
Seberapa banyak ingatan terpaku ?
Ini Ko Ngien pertama lagi,
di Pinkong,
setelah 30 tahun berlalu.





Seberapa banyak kenangan dahulu
yang masih diingat kini ?
Lamat - lamat hanya ada sedikit rindu,
tentang tambur yang bertalu,
tentang musik yang bergemerincing,
tentang fung pao yang seperlunya,
tak ada rasa rindu.



Seberapa meriah Ko ngien sekarang ?
tidak seperti dulu,
hanya ada acuh tak acuh,
jalanan yang sepi,
waktu yang terus berlalu,
hujan yang berderai acap kali,
banyak hal sudah berlalu,
tidak seperti dulu.


Seberapa baru hati kita bertalu ?
tak ada yang tahu,
hanya pakaian kita yang baru,
kue yang masih seperti dulu,
semestinya ada pemikiran baru,
kesadaran baru,
tentang arti tahun baru.



Kiung Hi Sin Ngien,
Selamat Tahun Baru.
Sin Nien Khuai Le'.
Happy New Year.

Ketika daun mulai menguning ( 2 ), ibu Cui Yun

ketika daun mulai menguning
akankah daun itu lepas dari tangkainya
dan melayang jatuh  ke bawah ?


ketika bu Cui Yun berumur 60,
masa pensiun telah dimulai.
Akankah beliau melupakan
semua kenangan yang telah dilaluinya ?
38 tahun mengajar,
di sd budi mulia,
mengajar kelas 1 dan 2,
termasuk juga aku,
pernah diajar ketika kelas 2
                                                      tahun 1973
                                                      37 tahun lalu.


ketika waktu berlalu
seperti sekejap memejamkan mata
seperti secuil mimpi
yang tadi malam menyapa
ingatan apa yang tersisa
dan mengisi penuh
rongga dada keharuan ?



ketika menyusuri masa lalu
dan terhenti sejenak
di kelas paling ujung
kelas dua dahulu,
apa yang terbersit di pikiran ?
kelas yang riuh,
teman yang nakal,
senyum ibu yang menawan.


ketika kenangan dulu disusun ulang,
pernah ibu bercerita,
tentang bruder yang disiplin,
yang bisa menampar dengan tiba - tiba,
ketika ada yang berisik di kelas,
yang diam - diam bisa memberikan uang insentif,
untuk ibu yang dinilai terlalu lelah,
mengajar dari pagi sampai siang.


ketika ingatan diputar lagi,
ketika duduk di bangku beton di dekat lonceng,
ibu lewat dan berkata,
nah, kuingat namamu di sd dulu.
ingatan ibu kuat,
senyumku mengembang.
Juga ibu pernah bilang,
di suatu siang sesudah bubaran jam belajar,
                                                      lihatlah anak bm sekarang,
                                                      penuh energi,
                                                      pulang sekolahpun masih bermain,
                                                      berlarian, berkejaran, berebutan bola
                                                      Seandainya prestasi belajar seperti itu...

ketika daun mulai menguning,
biarkan daun itu tetap bertengger,
mungkin daun itu tidak akan cepat layu
dan melayang ke bawah,
mungkin daun hijau di sebelahnya lebih dulu gugur
dan menjadi tumpukan kompos di atas tanah.

ketika daun mulai menguning,
biarkan daun itu mengikuti waktunya,
karena sudah saatnya,
menguning
dan
akan berlalu
dalam hening
yang bening.

Sabtu, 01 Januari 2011

Happy New Year, Mr. Helen !

Hari Jumat, 31 Desember 2010,
sehari menjelang pergantian tahun.
Hari yang biasa saja di Pangkalpinang,
cuaca cerah, angin bertiup agak kencang.
Kegiatan hari ini biasa saja,
jaga warung,
baca koran,
ambil ponsel yang diservis,
copy mp3 di rumah tetangga,
sortir foto dan video di harddisk,
harddisk-nya sudah penuh.


Malam hari,
jalanan di depan warung, sepi,
seperti malam laga final aff,
ah, tutup warung,
sudah waktunya,
letusan suara kembang api mulai terdengar,
dua jam kemudian,
anakku ke loteng,
membakar kembang api dengan adikku,
'orang rumah' asyik selancar di fo sau buk,
menonton sinetron korea di youtube,
aku ?
tidur ayam.
Pas jam 24.00
dari arah lapangan merdeka,
letusan suara kembang api silih berganti,
mengapa orang mau membakar duit
secara tidak langsung ?
Duitnya berlebih barangkali.



Happy New Year 2011, Mr. Helen !
Selamat menempuh Tahun Baru, pak guru.
Happy always.
Semangat baru,
Harapan baru,
Kejujuran baru,
Kasih baru, 
Syukur terus menerus,
Iman yang terus tumbuh,
                                                      selalu.

Waktu terus berlalu (bagian ke-1)

Waktu terus berlalu...
Sudah 76 tahun usia Sekolah ini,
Sudah banyak nostalgia bertumpuk di memori,
terpatri silih berganti,
terpilih atau tersisih.

Waktu terus berlalu...
pandanglah bangunan ini,
diintip dari jendela kusam.
tergerus waktu yang tertatih,
bangunan yang akan diganti,
nanti.



Waktu terus berlalu...
pandanglah lonceng tua ini,
tergantung sepi,
ditemani kucuran air hujan
dari talang yang bocor,
berguna ketika listrik mati,
dengan pukulan palu tiga kali,
menandakan waktu sudah berganti.

Waktu terus berlalu...
lihatlah di pojok sepi,
lubang di pagar loteng,
terkuak oleh gerusan jaman,
tanda usia yang makin renta,
terbata - bata
berpegangan pada asa
menghadapi tantangan jaman.



Waktu terus berlalu...
lihatlah sekeliling,
sekolah dikepung duri :
rumah walet dan dept. store,
pertanda desakan modernisasi,
atau sekedar membuang sepi,
biar tetap berseri.



Waktu terus berlalu...
lihatlah sebatang nyamplung,
berdiri letih,
seusai dera rinai hujan,
di pojok yang sepi,
sendiri.

Waktu terus berlalu...
dan tetap berlalu.
Selalu.