Minggu, 14 Oktober 2012

Almamater (Ceritera kedua)

Lihat itu,
harapan baru
mulai menjulang
selapis demi selapis
menuju langit
membentuk kerangka
pendidikan berazaskan kasih
membantu yang lemah dan terpinggirkan

Lihat itu,
harapan baru
mulai menjulang
selapis demi selapis
menuju langit
berfondasi kemanusiaan
sudah lama dibangun
dari kepingan dedikasi
yang dirangkai sejak 77 tahun silam
menuju masyarakat lebih berseri.

Lihat itu,
harapan baru
mulai menjulang selapis demi selapis menuju langit
di sana sudah bersimpuh
ibunda yang ramah
dengan senyum simpul
tatapan binar secerah mentari pagi
tangan berdekap di dada
memandang penuh cinta
dan
ketika tangan bunda terjulur
mengembangkan kedua telapak tangan
bunda menjadi ibu yang ramah
dengan perhatian yang tak pernah putus
selalu.


Selasa, 26 Juni 2012

Kantinku terpelanting

Kesan ini ditulis setelah berbicara dengan ko A Kim, salah satu penghuni kantin,  tadi pagi di kantin pada hari terakhir pemindahan, sabtu 23 juni 2012.


Kantin sekolah
belasan tahun sudah berdiri,
melayani dan mencari nafkah
dari murid dan guru
memenuhi kebutuhan dasar mereka
mengisi perut yang kosong sejak pagi
membina kedekatan setiap hari.


Kantin sekolah
belasan tahun sudah memberi,
menjadi piring nasi untuk beberapa keluarga
tempat untuk berteduh sejenak
melewati penatnya hari
menjadi saksi untuk banyak peristiwa
tempat bertukar informasi secuil
diam tapi bening.


Kantin sekolah
sekarang sudah pergi,
tergeser oleh renovasi gedung,
menjadi kantor guru sementara,
terpelanting ke luar pagar sekolah,
dan piring nasi itu terbanting ke lantai,
suara pecahannya berdenging sejenak,
lalu diam hening berurai air mata,
dan isak tertahan di dada,
pecahannya menusuk telapak kaki.
rasa pedihnya mendadak,
pilu menusuk.

Kantin sekolah sudah terpelanting,
meninggalkan murid yang mengeluh :
"di mana aku bisa jajan, ma ?"
dahi sang bunda berkerut,
wajahnya cemberut menahan penat,
setiap hari selalu bangun pagi,
menyiapkan bekal untuk sang buah hati,
karena kuatir dengan higienis jajanan
yang diraih secuil dari luar sana.

Kantin sekolah sudah terpelanting,
mungkin tak akan kembali
lagi.

(dan anakku juga mengeluh dengan keluhan yang sama ketika nanti kalau sudah masuk sekolah)

Senin, 11 Juni 2012

Almamater (Cerita Pertama)

Almamater,
ibu yang ramah,
mengajarkan kita banyak ilmu,
dulu,
ketika masih bercelana pendek,
dan wajah puber tanpa dosa,
menyusuri lorong semen
dikitari tiang kayu,
diiringi bel pencet memekik,
menyuruh kita bergegas
menuntut ilmu,
jauh melampaui jaman.




Almamater,
ibu yang ramah,
memberi kita banyak kenangan,
entah pahit atau manis,
ketika pandangan pertama terpana,
sosok mungil ceria,
di setiap pagi
menanti penuh binar,
senyum yang merekah
untuk hati yang bersembunyi,
mendorong semangat
untuk tetap berharap
walau itu nisbi,
dan mungkin sia - sia.


Almamater,
ibu yang ramah,
melecut semangat juang,
jangan kalah dengan saingan,
konsentrasikan pikiran,
harus angka sembilan
tak boleh kurang.
maka setiap malam adalah tempaan
tak perduli mulut sudah menguap
mata sudah menerawang,
tetap harus berjuang
demi suatu pengetahuan
tak lekang digilas jaman.


Almamater,
ibu yang ramah,
sekarang tinggal kenangan
tergusur oleh kebutuhan.
berubah rupa sesuai tuntutan jaman
akankah tetap menjadi ibu yang ramah ?
Semoga usia memberi kesempatan
untuk menyaksikan,
ketika uzur sudah menerpa.


Almamater,
ibu yang ramah.
Tetaplah ramah, ibu
untuk anak cucu kami,
menjadi penjaga jaman.

Ibu, tetaplah ramah,
selalu.



Rabu, 06 Juni 2012

Peluk daku, Guru ! (Cerita Keempat)

Peluk daku, Guru.

hujan lebat di siang hari,
sekolah kuyup diguyur,
air menetes di semua pojok,
ingusku ikut meleleh,
kususut tak mau berhenti,
kuhapus, tetap saja mengalir,
tak peduli, sambil berlari kecil,
kucari ibu di pojok ruang tunggu,
menerobos guyuran air langit,
sedikit omelan dan cubitan kudapat,
dan sebutir pempek tersumbat di mulutku,
lalu ibu bergegas menerobos terpaan air,
sambil membopong keranjang persegi
di pinggangnya,
menuju kantor guru,
dipanggil karena banyak yang lapar,
di udara dingin menyergap.
ku ikut dengan patuh,
karena tak ingin kehilangan pandangan
dari wajah ibu yang cantik.





Peluk daku, Guru.

di sinilah aku di kantor guru,
sambil tetap mengulum potongan pempek,
yang rasanya asin bercampur ingus,
melihat ibu melayani konsumen,
dan wajah ramah mengelus rambutku,
memandangku sambil tersenyum,
bertanya siapa namaku,
terbata - bata aku  menjawab,
menyebut namaku tergagap,
dan senyum ramah itu tetap mengikutiku.

Peluk daku, Guru.

kupandang ibuku dengan mesra,
wajah yang membuatku bangga,
karena ibu ikut berjuang,
membesarkanku dengan kasih sayang,
membantu ayah dengan berjualan,
sekeranjang otak - otak dan pempek setiap hari,
sehingga penghasilan ayah
sebagai penjahit,
cukuplah melewati hari.
untuk kami bertiga
menapaki mimpi.

Peluk daku, Guru.

inilah aku si balita ingusan di sekolah ini,
masih jauh mimpi dapat kuraih,
masih lama cita - cita dapat kugapai,
tak peduli aku,
selama ibu ada di sampingku,
selama ayah berjibaku,
kami bertiga tetap mampu,
meniti sehari demi sehari,
sambil berlari,
menerobos air langit
di kehidupan ini.

Peluk daku, Guru.

mimpiku akan kuraih,
nanti.


(Terima kasih kepada Harianto T. 81 yang telah menyumbangkan foto hitam putih-nya)

Sabtu, 02 Juni 2012

Kesadaran

ya, ya, ya, kesadaran muncul
melihat jam sudah hampir di angka tujuh,
sound system belum disiapkan,
bendera belum dirapikan,
petugas upacara masih bergerombol,
mematut - matut aksesories,
bertindaklah, bantulah,
biar semua menjadi lancar.



ya, ya, ya, kesadaran muncul
ketika upacara sudah selesai,
sound system belum dibereskan,
murid - murid sudah masuk ke kelas,
masing - masing guru
sibuk dengan urusannya,
apa susahnya,
membereskan yang tertinggal ?

ya, ya, ya, kesadaran muncul
melihat murid yang murung di kelas,
dengan pandangan mata menerawang,
pikiran melayang entah ke mana,
membersitkan keinginan untuk mengetahui,
ada apa gerangan ?


ya, ya, ya, kesadaran muncul
ketika satu kelas hingar bingar,
ditinggal guru yang seharusnya mengajar,
kenapa tidak membagikan waktu luang
menentramkan anak - anak tersayang ?



ya, ya, ya, kesadaran muncul
melakukan yang dapat dilakukan,
tanpa ada beban,
tanpa ada keterpaksaan,
tanpa ada pamrih,
tanpa ada tak peduli,
hati akan jadi riang,
senyum akan terkembang,
dan kita makin kaya,
karena dapat memberi,
tanpa ada kehilangan.
mari tetap peduli.

ya, ya, ya, kesadaran muncul
kesadaran, ya
ya, kesadaran.
ya, ya, ya, kesadaran.


(Terima kasih untuk Harianto T. 81 yang telah menyumbangkan foto pohon Belimbing di pojok belakang sekolah)

Sabtu, 26 Mei 2012

Peluk daku, Guru ! (Cerita ketiga)

Peluk daku, guru
Cuaca panas sekali tadi di sekolah,
angin sepoi lembut bertiup,
tak mampu menguapkan keringatku,
semua teman di kelas mengeluh,
pak guru bercucuran keringat di keningnya,
bu guru menguncir rambutnya ke atas,
tengkuknya sudah basah
andai saja kelasku ber-ac seperti sekolah di jakarta.


Peluk daku, guru
Sedang kutimang black berry di tanganku,
mencari ide
untuk mengirim message ke temanku,
di kamarku yang terasa sejuk menggigit,
setelah duduk nyaman di mobil crv papi,
dan makan siang ayam goreng kentucky kesukaanku tadi.

Peluk daku, guru
Terasa sunyi di rumah,
mami ke salon langganannya,
papi main golf bersama rekan bisnisnya,
adik kecil dijaga suster yang pendiam,
sambil menonton cerita artis
yang tak tahu malu,
di layar tivi 52 inci.

Peluk daku, guru
Sedang kunikmati
game counter strike kesukaanku,
suara letusan senapan
terasa merdu di telingaku,
dentumannya mengiang di benakku,
andai saja besok minggu aku diajak
ke medan pertempuran di pantai sana,
menjadi serdadu beneran,
walau cuma sesaat,
rasanya pasti menyenangkan.

Peluk daku, guru
Banyak fasilitas mengelilingiku,
banyak limpahan materi di sekelilingku,
tapi hatiku hampa,
tak ada kehangatan cinta di dalamnya,
orangtuaku sibuk dengan acaranya,
aku dianggap pajangan di rumah,
ditinggal semaunya,
irama hidupku hanya mengikuti jadwal,
sekolah, les, les, game, tidur.

Peluk daku, guru
Kucari teman sekolah lewat bbm,
tak banyak teman yang punya bbm rupanya.
hanya si tengil badu yang punya,
tapi aku tak suka dia.
si tengil itu suka pamer sepatu nike baru,
padahal kutahu itu palsu imitasi.
kucoba ke rumah budi di ujung kota sana,
yang pintar, baik hati dan peduli,
tapi mami melarangku,
kata mami, rumahnya pondok sempit dan kusam,
banyak kotoran binatang di depan rumahnya,
bajunya lusuh terkikis tahun,
rasanya tidak cocok bermain dengannya, kata mami.

Peluk daku, guru
jadilah aku burung di sangkar emas,
indah dipandang,
tak punya kebebasan,
gemerlap ditimang - timang,
galau di perasaan,
hanya bisa melewati hari demi hari,
entah apa yang dicari.

Peluk daku, guru
tak tahu lagi aku apa itu kasih sayang,
tak tahu lagi aku apa itu kebahagiaan sejati,
tak tahu lagi aku arti jati diri.

Peluk daku, guru
masihkah ada kehangatan cinta untukku ?

Kamis, 24 Mei 2012

Sejenak

Sejenak,
duduklah di sini, sayang
setelah penat menerjang
dan jenuh mendera,
diguyur ujian
selama bulan lalu,
dan mendaki
di gunung terjal usaha meraih nilai terbaik.

Sejenak,
legakan napasmu, sayang
di pundak papa,
melabuhkan lelah pikiran,
biarkan menguap
ke seantero angkasa,
dan air matamu
biarkan mengalir setetes,
bercampur keringat papa
di dada kelegaan ini.

Sejenak,
bersitkan senyummu, sayang
karena itu adalah cahaya
di dalam hati papa,
seperti kerlip bintang
di langit sana,
karena anak papa
adalah bintang di hati papa,
walau tak secerah sinar rembulan,
tak seterik matahari siang.

Sejenak,
mari kita tersenyum  bersama
dengan mama di tengah,
mari kita tertawa bersama,
sejenak.
Besok,
jalan akan berbeda lagi.
Sejenak,
kita lupakan tantangan yang menunggu di depan,
sejenak.


Sabtu, 05 Mei 2012

Anak panah patah

Puisi ini di-ilham-i oleh kepergian ananda Hubertus Theo Kristanto, dalam usia 3 tahun 1 bulan, pada Minggu 23 April 2012.
Puisi ini dimuat setelah mendapat ijin dari bu Lusia Warjanti, ibunda Theo dan tentunya juga pak Abu, ayahanda Theo.  
Teriring lantunan doa untuk ananda Theo. 

Sebatang anak panah
sudah di genggaman
dipasang di tali busur
siap dilepaskan menuju hari esok
tiba - tiba patah
di tengah jepitan jari cinta
yang mengusap dengan mesra.

Sebatang anak panah
sudah patah,
jatuh ke telapak kaki,
bunyinya berdenting satu kali
menusuk gendang telinga
apakah ini bukan mimpi ?


Sebatang anak panah
sudah patah,
tergeletak di hati,
riuh gelaknya masih terngiang
menggores kenangan di hati
lamat - lamat terasa perih.


Sebatang anak panah
sudah patah,
disimpan di dalam kesemestian,
meninggalkan tapak tanya tak terduga
mengapa ini mesti terjadi ?
Sebatang anak panah
sudah patah,
serpihannya menusuk telapak kaki,
hikmah apa yang terlihat selama ini ?
men-syukur-i kebersamaan selama tiga tahun ini ?
merelakan keterikatan dunia kepada Sang Ilahi ?

Sebatang anak panah
sudah patah,
dan doa ketabahan
membumbung tinggi
ke hadirat Sang Pemilik Sejati.

Sebatang anak panah
sudah patah,
biarkan hati yang mengkaji
semua kehendak Ilahi.

Sebatang anak panah
sudah patah...


Minggu, 08 April 2012

Setelah batu penutup terguling

Renungan Paskah 2012 :

Di pagi itu,
batu penutup gua terguling,
di dalamnya kosong,
Seorang pria berbaju putih kemilau,
wajahnya bersinar dan tersenyum,
berujar dengan lembut :
Yang kalian cari sudah pergi ke Galilea.
Hanya tampak kain kafan tergulung
Sang Guru tidak tampak.
Tak ada warna ungu
yang semburat di dinding gua.
Lamat - lamat tercium
aroma minyak mur dan gaharu
tertepis angin lembut berlalu.



Di pagi itu,
batu penutup gua terguling,
udara sekitar terhirup segar,
melegakan dada,
menjernihkan pikiran.
Ada rasa baru,
terhimpun di dada,
menyelimuti pikiran.
Ada rasa haru,
yang dikuatirkan sudah pergi,
tak ada gundah di hati,
hanya gembira berseri,
dan ini bukan mimpi.




Di pagi itu,
batu penutup gua terguling.
Ada kesadaran baru,
maut sudah dikalahkan,
janganlah kuatir akan hari esok,
karena hari ini adalah hari ini,
bukan hari esok.
Jalani hari ini demi hari esok,
persiapkan harapan
yang menjadi bekal di hari esok,
seperti hari kemarin
yang menjadi landasan hari ini.





Di pagi itu,
setelah batu penutup gua terguling,
apa yang kau pikirkan,
apa yang kau dapatkan ?





Di pagi itu,
setelah batu penutup gua-mu terguling,
lepaskan kekuatiranmu,
peluklah kesadaran baru,
di ruang batinmu,
setelah batu penutup gua-mu terguling.




( ditulis di hari Minggu Paskah malam )