Duduk sendirian di bangku semen
di teras kelas 3
memandang ke depan
melihat tangki air baru,
stainless steel,
tinggi besar dan berkilau,
menjulang di dalam taman bermain.
Cuaca terik menyengat,
dan pantulan di tangki air
sekilas membentuk bayangan kilas balik
sembilan bulan lalu
ketika menyaksikan
hari - hari pencarian sumber air
yang melelahkan.
Mem-bor di lapangan bulutangkis di aula,
dengan mesin yang berkekuatan besar,
dan jam - jam yang menjenuhkan
menunggu kepastian,
seberapa besar debit air bisa didapat.
Dan akhirnya,
harapan itu kandas,
karena debit dianggap tidak mencukupi,
padahal lokasi itu adalah hasil terawang
dari seorang bruder,
yang punya daya linuwih.
Kemudian berpartisipasilah
seorang bapak di tata usaha sekolah
dan dengan doa tulus
sumber air didapatkan
di dalam taman TK
Dan pengulangan kerja dilakukan
dengan harap - harap cemas
mencari sumber kehidupan
menanti lagi
dan
doa terkabul
debit air sesuai dengan yang diharapkan.
Hari demi hari berlalu,
berganti minggu,
berganti bulan
dan sekarang baru terwujud
menara dengan tangki air di atasnya.
Lelah hati sudah menunggu.
Dan kesadaran baru muncul
bahwa air memegang kendali vital,
Sumber air dulu
hanya dari sumur tua di samping perpustakaan SMP,
tidak cukup
untuk seribu jiwa selama jam sekolah,
urusan kebersihan,
urusan peturasan,
urusan kehidupan.
Pekerjaan lain sudah menunggu,
menanti gedung sekolah baru terwujud
dengan bak air sekolam renang
entah berapa bulan lagi
harus menanti.
Dan lamunan terputus,
ada murid berteriak :
" Pak, soal 89 menurun, banyu, apa artinya ? "
Ekskul Asah Otak sedang berlangsung.
Kembali ke kenyataan,
sekarang.
Catatan kecil tentang keseharian Helen Muliadi di lingkungan sekolah SD dan SMP Budi Mulia, Pangkalpinang, Bangka. Mengais hikmah dan kebijaksanaan yang dapat ditemukan. Blog ini dibuat pada hari Minggu, 8 Agustus 2010.
Minggu, 16 Oktober 2011
Rabu, 12 Oktober 2011
Adakah dokter di sini ?
di sini adalah gereja katedral santo yosef
pada hari minggu biasa
misa jam delapan pagi
duduklah di barisan bangku terdepan
di bagian tengah gereja.
di sini adalah perayaan ekaristi seperti biasa
terlihat seorang gadis kurus kecil sendiri
melangkah terburu - buru
masuk ke dalam ruangan
mencari tempat duduk
di bangku tepat di depanku
hanya dipisahkan sepotong lorong.
di sini adalah bagian komuni dari misa
dan gadis kurus kecil
entah kapan keluar ruangan,
tergesa - gesa masuk lagi ke dalam
dan mengantri terakhir
di barisan penerima hosti.
di sini adalah akhir misa,
pembacaan pengumuman
dan gadis kurus kecil merintih menderita
menyibukkan umat di kiri kanan
menggosok minyak angin di dahi
dibopong oleh dua lelaki baik hati
menuju ke luar gereja.
di sini adalah pertanyaan :
"adakah dokter di sini ?"
di rumah Sang ilahi
ketika hal apa saja dapat terjadi,
memberi atau pun mengambil,
datang atau pun pergi.
di sini adalah pertanyaan lagi,
ketika sang dokter tidak hadir,
maukah kita menolong dan memiliki hati ?
seperti janji kepada diri sendiri
ketika itu.
di sini adalah kesadaran,
kita harus menyiapkan diri
apa pun bisa terjadi
dalam segala situasi
dalam segala kondisi
apakah hati kita sedang bersembunyi ?
di sini adalah ..................
di sini
saat ini.
pada hari minggu biasa
misa jam delapan pagi
duduklah di barisan bangku terdepan
di bagian tengah gereja.
di sini adalah perayaan ekaristi seperti biasa
terlihat seorang gadis kurus kecil sendiri
melangkah terburu - buru
masuk ke dalam ruangan
mencari tempat duduk
di bangku tepat di depanku
hanya dipisahkan sepotong lorong.
di sini adalah bagian komuni dari misa
dan gadis kurus kecil
entah kapan keluar ruangan,
tergesa - gesa masuk lagi ke dalam
dan mengantri terakhir
di barisan penerima hosti.
di sini adalah akhir misa,
pembacaan pengumuman
dan gadis kurus kecil merintih menderita
menyibukkan umat di kiri kanan
menggosok minyak angin di dahi
dibopong oleh dua lelaki baik hati
menuju ke luar gereja.
di sini adalah pertanyaan :
"adakah dokter di sini ?"
di rumah Sang ilahi
ketika hal apa saja dapat terjadi,
memberi atau pun mengambil,
datang atau pun pergi.
di sini adalah pertanyaan lagi,
ketika sang dokter tidak hadir,
maukah kita menolong dan memiliki hati ?
seperti janji kepada diri sendiri
ketika itu.
di sini adalah kesadaran,
kita harus menyiapkan diri
apa pun bisa terjadi
dalam segala situasi
dalam segala kondisi
apakah hati kita sedang bersembunyi ?
di sini adalah ..................
di sini
saat ini.
Senin, 10 Oktober 2011
Suatu hari, kudengar kata Spiritualitas dan Etos Kerja
Jumat dan Sabtu, 26 dan 27 Agustus 2011
dua hari yang menggembirakan,
bertemu dengan Br. Bambang.
Banyak cerita lucu terdengar,
banyak renungan yang perlu direfleksikan,
biar tugas mendatang lebih terasa menyenangkan,
menapak hari - hari dengan senyuman.
Ada kalimat hiperbola terucap
selama dua hari yang segar itu :
jatuh tigabelas kali misalnya,
untuk menggambarkan
jeleknya jalan yang harus ditempuh
untuk ,menjadi guru di tempat terpencil,
seperti terkucil.
Atau ketulusan seorang ibu guru,
di suatu desa di daerah Klaten,
dengan gaji sak bruttt...
( hanya segumpal angin yang keluar ),
tetapi dapat menikmati makan siang
nasi dengan sayur bening dan sambal,
dan kegembiraan terpancar di tutur kata sang ibu guru.
Mungkin juga takdir
yang berkata lain,
di suatu waktu,
di suatu tempat,
tak ada yang tahu,
semua sudah digariskan
menuju batas akhir,
menghadap Ilahi
dan hanya tertegun yang muncul.
Dan kesadaran
haruslah muncul,
sesudah dua hari yang ceria,
dengan canda yang menyenangkan.
Mungkin akan muncul lagi kerinduan
untuk bertemu
di kelak kemudian hari,
mengingat kembali
apa yang telah didapat,.
apa yang menjadi tekad,
apa yang akan digiatkan,
apa yang telah dikuatkan,
hanya hati di dalam
yang tahu
sejujurnya.
Yang sudah lalu biarlah berlalu
dan ada yang perlu
diperbaharui
selalu,
menyongsong esok hari
yang menanti.
Buktikan tekadmu.
dua hari yang menggembirakan,
bertemu dengan Br. Bambang.
Banyak cerita lucu terdengar,
banyak renungan yang perlu direfleksikan,
biar tugas mendatang lebih terasa menyenangkan,
menapak hari - hari dengan senyuman.
Ada kalimat hiperbola terucap
selama dua hari yang segar itu :
jatuh tigabelas kali misalnya,
untuk menggambarkan
jeleknya jalan yang harus ditempuh
untuk ,menjadi guru di tempat terpencil,
seperti terkucil.
Atau ketulusan seorang ibu guru,
di suatu desa di daerah Klaten,
dengan gaji sak bruttt...
( hanya segumpal angin yang keluar ),
tetapi dapat menikmati makan siang
nasi dengan sayur bening dan sambal,
dan kegembiraan terpancar di tutur kata sang ibu guru.
Mungkin juga takdir
yang berkata lain,
di suatu waktu,
di suatu tempat,
tak ada yang tahu,
semua sudah digariskan
menuju batas akhir,
menghadap Ilahi
dan hanya tertegun yang muncul.
Dan kesadaran
haruslah muncul,
sesudah dua hari yang ceria,
dengan canda yang menyenangkan.
Mungkin akan muncul lagi kerinduan
untuk bertemu
di kelak kemudian hari,
mengingat kembali
apa yang telah didapat,.
apa yang menjadi tekad,
apa yang akan digiatkan,
apa yang telah dikuatkan,
hanya hati di dalam
yang tahu
sejujurnya.
Yang sudah lalu biarlah berlalu
dan ada yang perlu
diperbaharui
selalu,
menyongsong esok hari
yang menanti.
Buktikan tekadmu.
Minggu, 28 Agustus 2011
Gadis kecil dengan kejujuran besar
13 Juli 2011,
hari ketiga awal tahun ajaran,
saat itu sudah pulang sekolah,
jam sembilan lewat sedikit.
Berdiri melemparkan pandangan,
di selasar dekat kantor guru sd,
sendirian,
dan tiba - tiba
seorang gadis kecil,
wajah yang tidak kukenal,
mungkin kelas tiga,
berambut panjang,
menghampiri dengan tangan terjulur,
menyodorkan selembar uang kertas :
si biru lima puluh ribu rupiah,
dan berkata dengan polos,
sejernih warna langit saat itu :
ada uang jatuh, pak,
dan berlalu tanpa pa pi pu.
Aku termangu,
melihat si biru
di genggaman,
dan terbersit pikiran,
mau diapakan uang ini,
senilai dua bungkus chao pan thiao,
dan nurani lebih menuntun
untuk meletakkan si biru
di kotak kas koperasi guru,
dan bebanpun menjauh.
Kembali ke tempat tadi,
melihat bu Lena menghampiri,
dengan raut wajah cemberut,
dan duduk di kursi
sambil berkeluh kesah :
dapat lima puluh,
hilang lima puluh.
Ternyata,
selembar uang biru
telah berlalu
dari genggamannya
dan itu artinya
si biru dari gadis kecil
adalah si biru yang pergi tanpa pamit.
Sekarang si biru sudah kembali,
dan senyum ceria
menghiasi banyak wajah guru,
di ruangan yang panas itu.
Ada yang berujar,
guru kelas dua
sudah berhasil mengajarkan
kejujuran
dan kerelaan
kepada si gadis kecil
dengan kejujuran yang besar.
Berbahagialah engkau
gadis kecil,
telah memberikan teladan,
tentang kejujuran,
tentang kerelaan,
tentang ketulusan.
Biarkan nilai besar itu
selalu ada di genggamanmu.
( dan esok harinya,
seorang gadis besar,
bersama rombongannya,
menyodorkan selembar
lima ribuan,
yang ditemukan di jalan,
basah dan terlipat.
uang itu ada di kotak kas koperasi. )
hari ketiga awal tahun ajaran,
saat itu sudah pulang sekolah,
jam sembilan lewat sedikit.
Berdiri melemparkan pandangan,
di selasar dekat kantor guru sd,
sendirian,
dan tiba - tiba
seorang gadis kecil,
wajah yang tidak kukenal,
mungkin kelas tiga,
berambut panjang,
menghampiri dengan tangan terjulur,
menyodorkan selembar uang kertas :
si biru lima puluh ribu rupiah,
dan berkata dengan polos,
sejernih warna langit saat itu :
ada uang jatuh, pak,
dan berlalu tanpa pa pi pu.
Aku termangu,
melihat si biru
di genggaman,
dan terbersit pikiran,
mau diapakan uang ini,
senilai dua bungkus chao pan thiao,
dan nurani lebih menuntun
untuk meletakkan si biru
di kotak kas koperasi guru,
dan bebanpun menjauh.
Kembali ke tempat tadi,
melihat bu Lena menghampiri,
dengan raut wajah cemberut,
dan duduk di kursi
sambil berkeluh kesah :
dapat lima puluh,
hilang lima puluh.
Ternyata,
selembar uang biru
telah berlalu
dari genggamannya
dan itu artinya
si biru dari gadis kecil
adalah si biru yang pergi tanpa pamit.
Sekarang si biru sudah kembali,
dan senyum ceria
menghiasi banyak wajah guru,
di ruangan yang panas itu.
Ada yang berujar,
guru kelas dua
sudah berhasil mengajarkan
kejujuran
dan kerelaan
dengan kejujuran yang besar.
Berbahagialah engkau
gadis kecil,
telah memberikan teladan,
tentang kejujuran,
tentang kerelaan,
tentang ketulusan.
Biarkan nilai besar itu
selalu ada di genggamanmu.
( dan esok harinya,
seorang gadis besar,
bersama rombongannya,
menyodorkan selembar
lima ribuan,
yang ditemukan di jalan,
basah dan terlipat.
uang itu ada di kotak kas koperasi. )
Rabu, 27 Juli 2011
Black and White
Setahun lalu,
ketika melongok ke kelas kenangan,
hati terperanjat,
melihat papan tulis hitam masih bertengger.
Sudah berapa tahun berlalu ?
Sudah berapa banyak debu kapur dihirup guru ?
Setengah tahun kemudian,
papan tulis hitam mulai dicopot satu,
diganti papan tulis putih,
dengan spidol baru,
yang bikin murid punya kebiasaan baru,
mengisi spidol kosong
dengan terburu - buru,
demi penghematan,
mengisi dengan tinta isi ulang,
dipakai hingga spidol hilang ujung bulu,
baru dicampakkan,
biarkan berlalu bersama debu.
Dan lihatlah,
ada nuansa baru,
ada pemandangan baru,
hitam dan putih bersanding
di depan murid,
sedikit menyembuhkan rindu,
akan kesehatan yang perlu
untuk guru,
untuk si badu muridku yang lucu.
Yang tinggal adalah penghapus abu - abu
yang membuat hati haru biru,
abu - abu bergaris putih,
kualitas nomor satu,
tanpa kayu pegangan,
hanya busa abu - abu,
masa lalu yang muncul baru.
Ada hitam dan putih,
dan sepotong abu - abu,
di ujung kelasku dahulu.
Membuatku terharu,
mengingat - ingat masa lalu,
dulu,
ketika kaki mulai berbulu,
ketika perasaan mulai abu - abu,
antara mengenakan celana pendek
atau panjang
biar tak malu
dengan bulu.
Itulah dulu.
Ada hitam dan putih
yang sudah bersanding
terlebih dahulu.
dan semoga
putih selalu menjadi pemandangan baru
di depan murid
ketika gedung baru
sudah menjelma
nanti.
tak perlu lagi
ada debu
di dalam udara
yang dihirup,
selamat tinggal
penghapus abu - abu.
Jadilah kenangan masa lalu.
berlalu bersama debu
dan haru.
( Terima kasih kepada Ivan Lindra Wijaya yang telah bersedia memperagakan memegang penghapus abu - abu )
ketika melongok ke kelas kenangan,
hati terperanjat,
melihat papan tulis hitam masih bertengger.
Sudah berapa tahun berlalu ?
Sudah berapa banyak debu kapur dihirup guru ?
Setengah tahun kemudian,
papan tulis hitam mulai dicopot satu,
diganti papan tulis putih,
dengan spidol baru,
yang bikin murid punya kebiasaan baru,
mengisi spidol kosong
dengan terburu - buru,
demi penghematan,
mengisi dengan tinta isi ulang,
dipakai hingga spidol hilang ujung bulu,
baru dicampakkan,
biarkan berlalu bersama debu.
Dan lihatlah,
ada nuansa baru,
ada pemandangan baru,
hitam dan putih bersanding
di depan murid,
sedikit menyembuhkan rindu,
akan kesehatan yang perlu
untuk guru,
untuk si badu muridku yang lucu.
Yang tinggal adalah penghapus abu - abu
yang membuat hati haru biru,
abu - abu bergaris putih,
kualitas nomor satu,
tanpa kayu pegangan,
hanya busa abu - abu,
masa lalu yang muncul baru.
Ada hitam dan putih,
dan sepotong abu - abu,
di ujung kelasku dahulu.
Membuatku terharu,
mengingat - ingat masa lalu,
dulu,
ketika kaki mulai berbulu,
ketika perasaan mulai abu - abu,
antara mengenakan celana pendek
atau panjang
biar tak malu
dengan bulu.
Itulah dulu.
yang sudah bersanding
terlebih dahulu.
dan semoga
putih selalu menjadi pemandangan baru
di depan murid
ketika gedung baru
sudah menjelma
nanti.
tak perlu lagi
ada debu
di dalam udara
yang dihirup,
selamat tinggal
penghapus abu - abu.
Jadilah kenangan masa lalu.
berlalu bersama debu
dan haru.
( Terima kasih kepada Ivan Lindra Wijaya yang telah bersedia memperagakan memegang penghapus abu - abu )
Minggu, 26 Juni 2011
Sinterklas atau Piet Hitam ?
Saat - saat kenaikan kelas,
dan itu artinya,
pertentangan batin dimulai,
pikiran stress menerjang,
bagaimana harus bersikap ?
bagaimana harus memutuskan ?
Melihat murid dengan segala liku-likunya,
ada yang nakal dan malas,
ada yang diam dan bingung,
ada yang patuh tapi telmi,
semuanya campur aduk,
dan palu disodorkan
di genggaman,
mau jadi Sinterklas atau Piet Hitam ?
Sinterklas yang memberi,
kepada yang rajin
dan berprestasi,
kepada yang patuh
dan memperbaiki diri,
dengan senyuman menebarkan kasih,
membuat hati riang dan berseri.
Piet yang hitam,
melecut si nakal, malas dan liar,
dengan lecutan terangkat,
dengan libasan mendera,
dan tangis akan terdengar sejenak,
seolah menyadarkan akan penyesalan
yang selalu datang terlambat.
Saat - saat kenaikan kelas,
kepala guru akan tertunduk
makin rendah,
makin dalam,
berdoa kepada sang Khalik,
tunjukkan jalan terbaik,
demi si murid,
supaya esok akan lebih baik,
karena jalan masih panjang
dan berliku.
Ada bukit yang harus didaki,
ada puncak yang dapat diraih.
Ada yang harus ditinggal,
ada yang harus berlari,
hari demi hari menjalin usaha diri,
meniti prestasi,
dan tetap mengingat diri,
harapan masih menanti.
Dan ketika palu diletakkan,
ada rasa lega di hati,
Sinterklas sudah pergi,
Piet Hitam sudah tak tampakkan diri.
Hari sudah berganti.
Mungkin kejadian ini
akan terulang lagi.
Nanti.
( Mohon maaf, foto murid terlampir di sini hanya sebagai ilustrasi, bukan bukti )
.
dan itu artinya,
pertentangan batin dimulai,
pikiran stress menerjang,
bagaimana harus bersikap ?
bagaimana harus memutuskan ?
Melihat murid dengan segala liku-likunya,
ada yang nakal dan malas,
ada yang diam dan bingung,
ada yang patuh tapi telmi,
semuanya campur aduk,
dan palu disodorkan
di genggaman,
mau jadi Sinterklas atau Piet Hitam ?
Sinterklas yang memberi,
kepada yang rajin
dan berprestasi,
kepada yang patuh
dan memperbaiki diri,
dengan senyuman menebarkan kasih,
membuat hati riang dan berseri.
Piet yang hitam,
melecut si nakal, malas dan liar,
dengan lecutan terangkat,
dengan libasan mendera,
dan tangis akan terdengar sejenak,
seolah menyadarkan akan penyesalan
yang selalu datang terlambat.
Saat - saat kenaikan kelas,
kepala guru akan tertunduk
makin rendah,
makin dalam,
berdoa kepada sang Khalik,
tunjukkan jalan terbaik,
demi si murid,
supaya esok akan lebih baik,
karena jalan masih panjang
dan berliku.
Ada bukit yang harus didaki,
ada puncak yang dapat diraih.
Ada yang harus ditinggal,
ada yang harus berlari,
hari demi hari menjalin usaha diri,
meniti prestasi,
dan tetap mengingat diri,
harapan masih menanti.
Dan ketika palu diletakkan,
ada rasa lega di hati,
Sinterklas sudah pergi,
Piet Hitam sudah tak tampakkan diri.
Hari sudah berganti.
Mungkin kejadian ini
akan terulang lagi.
Nanti.
( Mohon maaf, foto murid terlampir di sini hanya sebagai ilustrasi, bukan bukti )
.
Mereka tidak pergi, hanya tidak terlihat...
Hari itu ada sedikit upacara,
bukan senam pagi jumat seperti biasa,
tapi ada acara perpisahan
untuk tiga wajah yang sangat dikenal
di smp budi mulia,
masing-masing punya ciri khas tersendiri,
penuh warna dan makna.
Adalah bu Yanti,
yang setia menunggu di perpustakaan,
dengan buku dan koran
serta alat tulis,
di sekitar meja dinasnya,
dan akan ada celoteh,
untuk murid yang terlambat
mengembalikan buku,
untuk murid yang grusa grusu,
membeli alat tulis,
hanya untuk mengejar waktu
supaya tidak dimarahi guru.
Adalah bu Yanti,
yang jadi chef di smp bm,
mengolah makanan di dapur sekolah,
jadi gesit, lincah dan trengginas,
untuk urusan kuliner.
Adalah bu Yanti,
yang kantor dinasnya jadi markas,
guru dan karyawan smp,
untuk singgah sejenak,
berteduh,
dan ngerumpi,
apa saja :
keluhan, kegembiraan, cerita mancing,
keprihatinan terhadap generasi muda,
kejengkelan melihat zaman edan,
mendengar alunan musik dari tk,
dan dengan kejelian mata batin,
semua yang bergaung di perpustakaan
adalah hal yang off the record,
berlalu bersama angin sepoi
yang mengalir lewat kaca nako kusam,
yang tertinggal hanya kenangan,
yang dibawa pergi ke Yogya pun
tetap kenangan
akan suatu masa,
suatu waktu,
di perpustakaan smp budi mulia.
Adalah bruder Anton,
yang penampilannya bukan preman,
dengan wajah sedikit cambang dan brewok,
yang membuat saya kagum,
dengan pembacaan puisi teaterikalnya,
dengan penguasaan bahasa bataknya yang fasih,
padahal dia orang flores,
dan bisa dengan santun,
mempersembahkan misa
pada saat ziarah di bruderan.
Adalah bruder Anton,
yang bisa galak di kelas,
dengan suara baritonnya membentak :
mati kau,
(yang mati adalah sifat buruk murid)
dan alunan nyanyian
akan terdengar :
sing sing so...
dan mungkin bruder Anton
akan menerjemahkannya
ke dalam bahasa inggris
ketika kuliah
di sanata dharma
nanti.
Adalah bu Aiwen,
yang senyumnya
tak pernah lepas,
selalu tersungging,
tapi pelajarannya
adalah matematika,
yang jadi momok,
yang bikin murid akan mencari
fotocopy jawabannya
dari teman yang pintar.
Adalah bu Aiwen,
yang punya rumus tersendiri,
kalau akan mengisi rapor,
dan saya belajar banyak soal rumus itu,
ada kasih di salah satu variabelnya,
beda dengan konsstanta kegeraman
di rumus yang kubawa,
dan entah rumus apa yang diutak - atik,
sehingga memutuskan untuk pensiun dini
dan menggeluti bidang dunia maya.
Mereka bertiga tidak pergi,
hanya tidak terlihat,
dan siapa tahu,
ada jalan yang akan menunjukkan,
di suatu hari nanti,
mereka terlihat lagi,
dengan wajah lebih berseri,
tetap berseri,
dan terus berseri,
lagi.
bukan senam pagi jumat seperti biasa,
tapi ada acara perpisahan
untuk tiga wajah yang sangat dikenal
di smp budi mulia,
masing-masing punya ciri khas tersendiri,
penuh warna dan makna.
Adalah bu Yanti,
yang setia menunggu di perpustakaan,
dengan buku dan koran
serta alat tulis,
di sekitar meja dinasnya,
dan akan ada celoteh,
untuk murid yang terlambat
mengembalikan buku,
membeli alat tulis,
hanya untuk mengejar waktu
supaya tidak dimarahi guru.
Adalah bu Yanti,
yang jadi chef di smp bm,
mengolah makanan di dapur sekolah,
jadi gesit, lincah dan trengginas,
Adalah bu Yanti,
yang kantor dinasnya jadi markas,
guru dan karyawan smp,
untuk singgah sejenak,
berteduh,
dan ngerumpi,
apa saja :
keluhan, kegembiraan, cerita mancing,
kejengkelan melihat zaman edan,
mendengar alunan musik dari tk,
dan dengan kejelian mata batin,
semua yang bergaung di perpustakaan
adalah hal yang off the record,
berlalu bersama angin sepoi
yang mengalir lewat kaca nako kusam,
yang dibawa pergi ke Yogya pun
tetap kenangan
akan suatu masa,
suatu waktu,
di perpustakaan smp budi mulia.
Adalah bruder Anton,
yang penampilannya bukan preman,
dengan wajah sedikit cambang dan brewok,
yang membuat saya kagum,
dengan pembacaan puisi teaterikalnya,
dengan penguasaan bahasa bataknya yang fasih,
padahal dia orang flores,
dan bisa dengan santun,
pada saat ziarah di bruderan.
Adalah bruder Anton,
yang bisa galak di kelas,
dengan suara baritonnya membentak :
mati kau,
(yang mati adalah sifat buruk murid)
dan alunan nyanyian
akan terdengar :
dan mungkin bruder Anton
akan menerjemahkannya
ke dalam bahasa inggris
ketika kuliah
di sanata dharma
nanti.
Adalah bu Aiwen,
yang senyumnya
tak pernah lepas,
selalu tersungging,
tapi pelajarannya
adalah matematika,
yang jadi momok,
yang bikin murid akan mencari
fotocopy jawabannya
Adalah bu Aiwen,
yang punya rumus tersendiri,
kalau akan mengisi rapor,
dan saya belajar banyak soal rumus itu,
ada kasih di salah satu variabelnya,
beda dengan konsstanta kegeraman
di rumus yang kubawa,
dan entah rumus apa yang diutak - atik,
sehingga memutuskan untuk pensiun dini
dan menggeluti bidang dunia maya.
Mereka bertiga tidak pergi,
hanya tidak terlihat,
dan siapa tahu,
ada jalan yang akan menunjukkan,
di suatu hari nanti,
mereka terlihat lagi,
dengan wajah lebih berseri,
tetap berseri,
dan terus berseri,
lagi.
Langganan:
Postingan (Atom)