Sabtu, 07 April 2012

Tiga tiang salib berwarna ungu

Renungan Paskah 2012  :

Tiga tiang salib berwarna ungu
tegak di atas bukit,
belasan jam yang lalu,
yudas iskariot yang menunjukkan jalan,
jarinya menusuk
menghunjam jauh ke lambungNya.



Tiga tiang salib berwarna ungu
tegak di atas bukit,
beberapa jam yang lalu,
kayafas yang menjatuhkan palu tuduhan
dan pilatus mencoba cuci tangan
menyeka tangannya dengan mahkota duri.



Tiga tiang salib berwarna ungu
tegak di atas bukit
berpuluh menit yang lalu
sang guru tertatih - tatih
memanggul dan menyeret
salib lambang dosa kita
dibantu simon kirene di sepenggalan jalan,
terjatuh dan terjatuh lagi.


Tiga tiang salib berwarna ungu
tegak di atas bukit,
pilihan sudah dijalaniNya
tugas sudah dipenuhiNya
sampai ke akhir perih,
penuh derita,
penuh sengsara,
tapi itulah keputusanNya.



Tiga tiang salib berwarna ungu
tegak di atas bukit.
Mimpi si tiang kayu
sudah terwujud,
berada di tempat tertinggi di atas bumi,
menyanggah sang juru selamat berdiri,
penuh luka dan perih.
memenuhi janji dari hati



Tiga tiang salib berwarna ungu
tegak di atas bukit.
Pelupuk mataku mendadak perih
hanya warna ungu menyaput
dan ...
tiga tiang salib berwarna ungu
tegak di atas bukit,
aku berlutut dan tertunduk
dan ...
warna ungu menyelimuti matahari terik.

Tiga tiang salib berwarna ungu
masih tegak di atas bukit.

Tiga tiang salib berwarna ungu......


( menjelang dini hari sabtu malam Paskah 2012 )

Jumat, 06 April 2012

In Memoriam : Bruder Heribertus, BM

Ingatan berputar kembali ke tujuh bulan lalu.
Ketika itu Bruder Heri berjalan santai
melintasi lapangan upacara SMP BM.
Tak terlihat penampilan aristokrat,
gaya flamboyan ataupun professor,
gaya selebrities ataupun atlet.
Terlalu sederhana untuk  penampilan seorang bruder
yang pernah menjadi kepala sekolah sd,
yang dulu pernah mengajar
di SD Budi Mulia Pangkalpinang selama 2-3 tahun.
Perkenalan kami pun sekilas saja,
"Heri", jawab bruder ketika kutanya namanya.
Sederhana saja.

Kemudian, hari - hari selanjutnya,
kami hanya bertegur sapa selintas di tempat parkir motor.

Ingatan berputar kembali,
ketika itu kami menyaksikan murid smp
sedang senam pagi setiap jumat.
Komentar Bruder Heri :
di Jakarta tak ada acara seperti ini.

Ingatan berputar sekali lagi,
waktu kami bertemu di ruang tata usaha SD,
dan ada celetukan
tentang gula pasir yang habis,
minta o b yang membeli,
bruder lalu bercanda :
tak usah beli,
di sini sudah ada gudang gulanya.
Ah, ternyata bruder menderita diabetes.

Ingatan meluncur lagi,
saat itu adalah hari pertama kami mengikuti seminar
dari Bruder Bambang.
Ketika itu kutanya,
apa masih minum propolis madu,
dan jawabannya : masih.
berarti kesembuhan adalah tujuan,
bukan pelengkap.

Ingatan meluncur lagi dan lagi,
ada suatu hari,
ketika mampir di kantor guru SMP,
dan bruder menawarkan kolak singkong
yang sudah tersedia sepanci penuh,
yang manis dan enak,
dan maafkan aku, bruder,
karena saat itu aku bertanya dalam hati,
apakah bruder juga makan kolak ini ?
Penderita diabetes harus menghindari yang manis legit seperti ini.

Ingatan terus meluncur,
betapa terkejutnya aku ketika melihat
Bruder Edu mengajar agama di SMP
menggantikan Bruder Heri,
ternyata,
Bruder Heri bermasalah dengan matanya,
dan sedang dirawat di rumah sakit di Yogya,
demikian ceritera dari Bruder Vinsen.

Ingatan meluncur lagi sampai ke dua bulan lalu,
betapa gembiranya melihat bruder sudah sehat
walau kurus,
kembali mengajar di SMP.
Lalu terdengar kabar bruder masuk bhakti wara
karena luka di kaki,
lalu,
terdengar kabar duka di pagi hari,
di hari kamis yang sibuk :
sang sederhana sudah kembali
ke pangkuan Bapa di alam Ilahi.

Dan inilah kata hati,
untuk mengantar bruder
setelah dua hari menemani dalam kebisuan :
Rest in Peace, bruder,
Senang bisa seiring sejalan sejenak,
Gembira dapat bertemu bruder
yang mampir di kehidupan ini.
Rest in Peace, Bruder Heri, Rest in Peace.
Requiem in pacem.


(ditulis di malam Jumat Agung, menjelang Paskah 2012)

Sabtu, 17 Maret 2012

Peluk daku, Guru ! (Cerita Kedua)

Peluk daku, Guru !
Minggu ini terasa melelahkan.
Setiap hari harus belajar giat
membaca, menghafal dan berhitung,
buku pelajaran bertumpuk di mejaku
ulangan mendera berurut
omelan guru terngiang di telinga :
belajar, belajar, belajar...


Peluk daku, Guru !
ayah mudah marah di rumahku,
ringan tangan dan ketus,
gara - gara harga timah merosot,
penghasilan ayah berkurang,
malah terancam bangkrut,
karena ekonomi di sini
seperti lingkaran setan,
jatuh di satu sisi
menyeret sisi yang lain
dan rontoklah ekonomi sebagian besar,
seperti susunan kartu remi punyaku
ditiup angin kencang dari jendela,
kartu uang sekolah pun
masih terselip di buku tulis,
sudah dua bulan ayah tak menanyakan
satu kali pun tentang uang sekolah,
ibu lebih memerlukan uang
untuk membeli beras
dan obat penurun demam untuk adik.

Peluk daku, Guru !
masuk ke kelas terasa menyesakkan,
lembaran kertas soal seperti melotot,
angka empat sudah terbayang
di halaman muka,
mungkin aku harus mengulang setahun lagi,
nilaiku kurang dari pas - pasan,
sepertinya aku
jadi anak terbodoh di dunia ini.


Peluk daku, Guru !
Masalah datang silih berganti,
persoalan tak puas mengunjungi,
hanya sesuatu yang menguatkan,
melihat linangan air mata ibu,
di larut malam
ketika hujan gerimis membasahi bumi,
aku harus belajar
biar kelak bisa menjadi orang kaya,
seperti yang kulihat di film korea,
di suatu hari di masa depan,
biar ibu dapat menikmati hari tuanya
dengan bahagia
setelah berkorban banyak
selama ini.

Peluk daku, Guru !
biarkanlah air mataku
membasahi dadamu.
Berikan daku
tiga puluh detik kehangatan
untuk melegakan daku.



Peluk daku, Guru !
Akan kuingat ini selalu.

Minggu, 11 Maret 2012

Tiada yang tahu, sayang.

Tiada yang tahu, sayang
ketika kau bertanya,
mengapa kakek bisa meninggal
dijemput maut tanpa bilang - bilang
di suatu tempat
di suatu waktu
dengan cara yang entahlah.


Tiada yang tahu, sayang
ketika kau bertanya,
menjadi apakah aku kelak,
orang kayakah,
orang miskinkah,
orang terkenalkah,
orang terlupakankah,
orang baikkah,
orang jahatkah,
orang sukseskah, 
orang terpurukkah,


Tiada yang tahu, sayang
karena kita tidak bisa 
melihat ke masa depan,
hanya lamunan kita menerawang,
hanya pikiran kita berkhayal,
waktu yang menunjukkan,
di suatu saat,
di suatu tempat.
yang bergulir menuju akhir perjalanan.


Tiada yang tahu, sayang
hanya waktu yang akan menjawab,
que sera - sera,
yang akan terjadi, 
terjadilah. 
Janganlah kuatir akan hari esok,
karena hari esok 
mempunyai jalannya sendiri,
menuju ke muara kehidupan,
                                                      di suatu hari,
                                                      entah sekarang
                                                      atau nanti.


Tiada yang tahu, sayang.
Tiada.

Minggu, 26 Februari 2012

Eluslah dadamu beberapa kali

Sodorkanlah acara lomba akademik
kepada murid yang memasuki
tingkat akhir sekolah dasar
di Budi Mulia tercinta ini.
Dan terbelalaklah mata
betapa kecil semangatnya
untuk berkompetisi
menunjukkan kemampuan
dan kepandaian.

Dan eluslah dadamu
melihat reaksi mereka,
dengan berbagai alasan
dan kambing hitam
yang dijadikan tameng untuk mengelak.



Tidak punya waktu,
les yang kuikuti banyak
dan waktunya berbenturan,
ibuku tidak bisa mengantar,
( atau tidak mau mengantar ? ).
ayahku tidak mengijinkan,
( tak ada gunanya, kata ayah )
takut kalah,
ucap lirih seorang anak.
                                                     ( ketika mengucapkan itu, dia sudah kalah,
                                                       tak perlu berperang lagi )

Dan, eluslah dadamu sekali lagi.

Apa hadiahnya, pak ?
beberapa anak bertanya
dengan tatapan mata yang berbinar.
Apa yang dicari hanya hadiah materi ?
bukan kemampuan diri yang lebih esensi,
untuk membuktikan eksistensi
dan jati diri
dibalut harga diri.

Dan, eluslah dadamu untuk terakhir kali.

Tak ada semangat kompetisi
yang muncul di binar sorot mata mereka,
tak ada kemilau sinar antusias di raut wajah mereka,
Hanya ada jelalatan bola mata kiri dan kanan,
mencari cara untuk menghindar,
dan bergegas menuju waktu
yang telah disepakati dengan teman
untuk main game dor - doran.

Zaman sudah berubah, anak muda.
sudah berubah,
tak seperti dulu lagi,
hidup hanya dijalani
untuk kesenangan diri.
Tak ada investasi akademik berarti
untuk diri sendiri.


Eluslah dadamu sekali lagi,
kalau masih ingin kau elus.

Rabu, 15 Februari 2012

Menikmati kegagalan


Kegagalan adalah
proses berprasangka buruk,
mencari - cari kesalahan panitia lomba,
dan tidak bersyukur.

Kegagalan adalah
mencari kutu di seberang lautan
tidak tampak gajah di pelupuk,
dan tidak bersyukur.

Kegagalan adalah
semangat yang mengendor
semua dilihat dengan kacamata negatif
dan tidak bersyukur.

Menikmati kegagalan adalah
menundukkan kepala
mengatupkan telapak tangan di dada
dan bersyukur :
Tuhan, ampuni daku.

Menikmati kegagalan adalah
memejamkan mata
meneteskan air mata
dan melihat kesadaran
betapa tidak berterimakasihnya daku
dan tidak bersyukur,
sudah ada Dia yang mengatur.


Menikmati kegagalan adalah
membuka kelopak mata
dan tersenyum simpul
dunia sangat cerah
penuh sinar kesadaran
diselingi sinar kerelaan
untuk tetap berjuang
menjalani hidup penuh tantangan


Menikmati kegagalan adalah
..................


( huruf bergaris bawah adalah kutipan kalimat dari Br. Anton Simbolon, BM )

Rabu, 11 Januari 2012

Memberi dengan bijak

Alkisah, di suatu acara reuni
suatu angkatan dari alumni memberikan
tanda penghargaan dan terima kasih
kepada mantan guru mereka di smp.
Tindakan yang tidak salah.




Kemudian, selang dua  tiga hari berjalan
komentar ketidakpuasan muncul
dari guru sd,
mengapa yang diberi hanya guru smp,
apakah guru sd tidak berjasa
mendidik mereka.
Komentar yang tidak salah.


Lalu, setelah dua tiga minggu berlalu
satu dua alumnus ke almamater
mewakili angkatannya
meminta alamat guru dan pensiunan guru
karena mereka tergugah
dan ingin memberi sesuatu
kepada para guru yang pernah berjasa
di dalam hidup mereka.
Tindakan yang mulia.

Setelah itu, cerita tentang sinterklas ini beredar
di antara guru yang sudah lama berkarya,
saling menanyakan dan bertukar cerita.
Muncullah komentar baru,
merasa alumni tidak adil dan pilih kasih.
mengapa guru yang sudah lama mengabdi,
tidak diberi perhatian yang sama,
kriteria apa yang digunakan ?
Apakah guru yang kejam akan dilupakan ?
apakah guru yang kaya akan diabaikan ?

Mungkin alumni yang ingin memberi
harus lebih bijak lagi,
memberikan sesuatu kepada guru
tanpa melihat latar belakang sang guru,
memberi dengan tulus,
sekedar rasa penghargaan,
sama rata, sama rasa,
dan semua prasangka buruk dihilangkan.

Memberi dengan bijak,
hanya tangan kanan yang terjulur,
dan tangan kiri tidak melihat
karena terlipat di belakang pinggang.

Memberi dengan bijak,
bukan bijak berperi.

Minggu, 25 Desember 2011

Ini Bulan Desember

Ini bulan Desember
Bulan penuh kabar gembira
Bulan pembagian rapor semester satu
Bulan sang guru menjadi sinterklas 
atau piet hitam
ketika pikiran dan perasaan 
bercampur baur.


Ini bulan Desember
Bulan penuh kabar gembira
Bulan pembagian bonus akhir tahun untuk guru dan karyawan
Bulan penghasilan yang bertambah setahun sekali
Ketika bonus menjadi relatif nilainya.
cuma setiupan angin 
atau menjadi rasa syukur.


Ini bulan Desember
Bulan penuh kabar gembira
Bulan sesudah reuni sekolah
yang menyadarkan alumni
betapa bersahajanya kehidupan 
para pensiunan guru
Sesudah tiga dasawarsa lebih mengajar
Karena itu tergeraklah hati mereka
meniru sinterklas membagikan hadiah
sedikit rasa perduli untuk guru tercinta
amplop natal yang menggembirakan.

Ini bulan Desember
Bulan penuh kabar gembira
Ketika kabar gembira diwartakan
dan semua umat bersorak : Alleluya
dan denting musik mengalun
syahdu, indah dan gembira
mengalun ke relung hati kita
menjadi cermin untuk berkaca
setelah setahun berlalu
Merefleksikan pikiran
Merefleksikan perasaan
Memantulkan kebesaran hati
Menyinarkan kejernihan jiwa
Seperti kilau bintang di langit timur

Selamat hari Natal
Gloria in excelsis Deo
Ad Maiorem Dei Gloria.

Senin, 28 November 2011

Ketika maut menjemput

Renungan ini muncul pada hari Jumat, 25 November 2011, 
hari ultah Konggregasi Bruder Budi Mulia Pangkalpinang,
satu jam sebelum ziarah ke kuburan para perintis 
dan mereka yang pernah berkarya di Sekolah Budi Mulia - Pangkalpinang.
Requiem in pace.


Ketika maut menjemput
maka kesadaran pun muncul

betapa hidup hanya menumpang minum
betapa waktu hanya sejarak helaan napas
betapa ajal tak bisa dicegah kedatangannya.

betapa hidup penuh misteri
betapa waktu adalah relatif
apa itu lama, apa itu sebentar,
betapa ajal tiba tak mengenal tempat,
tak mengenal saat,
tak mengenal identitas.

Ketika maut menjemput
maka kesadaran pun muncul

biarkan yang terjadi harus terjadi
biarkan yang sudah saatnya
digenapi waktunya
biarkan dia mengembara di dunia ini
menemukan kesadarannya,
maut akan menjemput
setiap saat,
setiap tempat,
hanya que sera sera terucap
dan serahkan sepenuhnya
kepada Sang Maha Pengatur.

Ketika maut menjemput,
biarkan kesadaran itu muncul,

memenuhi pikiran,
membumbungkan rasa syukur
ke langit ketujuh,
tempat kesadaran bersemayam
dengan bijak,
pada akhirnya.

Minggu, 06 November 2011

Ketika reuni menjelang...

Ketika reuni menjelang,
banyak yang tak mau datang,
karena kehilangan sebagian ingatan,
tentang suka dan duka
di sekolah dulu.
Mencoba menggali ingatan,
sambil menghapus kenangan pahit,
semuanya bercampur baur,
hanya samar - samar tersisa.

Ketika reuni menjelang,
banyak yang tak mau datang,
karena masih terbayang,
dendam yang tak jua hilang,
entah sebab apa,
entah kepada siapa,
hatinya tetap terkurung,
di remang bayang silam,
pikirannya masih terantuk
langit - langit picik,
jiwanya terikat,
di kobaran api gusar,
dan melihat hidup
penuh kebencian.


Ketika reuni menjelang,
banyak yang tak mau datang,
karena takut kehilangan muka,
hilang kepercayaan diri,
merasa tak berarti,
di hadapan kroni,
Mencoba tampil diri,
datang dengan kamuflase,
membohongi diri sendiri.

Ketika reuni menjelang,
banyak yang tak mau datang,
tak perduli hari - hari,
yang mungkin melekat di memori,
menjadikan teman karib tak berarti,
yang penting diri sendiri,
menjadi takabur diri,
dan hanya mencibir sinis,
kalian yang perlu aku,
si tinggi hati ini.

Ketika reuni menjelang,
banyak yang tak mau datang,
karena aku sudah letih,
mengais - ngais rejeki,
setiap hari,
tertatih - tatih,
tetap seperti ini.
Sungguh sedih,
meminta tapi tak ada bunyi,
dan aku makin menjauhkan diri.

Dan hari - hari reuni semakin dekat.

Ketika reuni menjelang,
banyak yang mau datang,
memamerkan diri,
dengan bangga bilang :
inilah tuanmu datang...
pongah dan takabur-nya
tak hilang - hilang
walau sudah lama berselang,
sungguh kasihan.


Ketika reuni menjelang,
banyak yang mau datang,
dengan hati tulus,
mengulurkan tangan,
sudah sekian tahun berselang,
mengapa tak bilang - bilang ?
Kugenggam tanganmu kawan,
biarkan kenangan kita tetap berjalan,
dan persahabatan kita tak terentang,
banyak hal dapat kita lakukan,
banyak suka dapat kita ciptakan,
marilah kawan bersama lagi,
demi masa depan terang benderang.

Ketika reuni menjelang,
banyak yang mau datang,
mencari keberanian,
untuk meminta maaf
atas kenakalan dulu,
atas kekhilafan dulu,
atas kebodohan dulu,
demi ketentraman hati,
demi keterbukaan pikiran,
dan kelegaan tak akan sembunyi lagi.

Ketika reuni menjelang,
banyak yang mau datang,
karena ini kesempatan,
yang mungkin tak akan terulang,
karena esok sudah mendiang
dan tinggal kenangan.



Ketika reuni menjelang,
banyak yang.......

Dan hari - hari reuni sudah datang,
sekarang.